KENDARI, LINKSULTRA.COM Kemajuan sektor pariwisata Sulawesi Tenggara semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak Dinas Pariwisata dipimpin Belli Tombili.
Pemerintah Provinsi Sultra kini menempatkan pariwisata sebagai salah satu lokomotif ekonomi baru, sehingga berbagai program strategis dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.
Salah satu pencapaian yang paling mendapat perhatian publik adalah gelaran Amazing Suteraran, event sport tourism yang sukses meningkatkan pergerakan wisatawan.
Tidak hanya menambah kunjungan, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.
Okupansi hotel dalam radius tiga kilometer meningkat tajam, dan peserta yang hadir berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
“Dampaknya sangat positif karena hotel terisi dan banyak pelari dari luar daerah datang. Tahun depan, arahan Pak Gubernur jelas: kegiatan ini harus dipersiapkan lebih baik agar memberikan multiplier effect yang lebih besar. Tahun ini peserta 2.250 orang, dan tahun depan kita target lima ribu peserta,” ungkap Belli.
Pemprov Sultra juga aktif memperkuat jejaring kerja sama dengan seluruh provinsi di Pulau Sulawesi. Koordinasi ini dilakukan melalui pertemuan resmi di Toraja, Manado, serta Jakarta.

Tahun depan, Sulawesi dijadwalkan meluncurkan event bersama yang melibatkan seluruh daerah untuk mempromosikan potensi wisata masing-masing sekaligus memperkuat branding kawasan.
Dari aspek konektivitas, Gubernur Sultra menilai kualitas infrastruktur antardaerah masih menjadi hambatan besar.
Perjalanan darat yang seharusnya dapat ditempuh 11 jam, justru bisa mencapai hampir 19 jam di Sulawesi.
Karena itu, peningkatan akses jalan menuju destinasi wisata dan koneksi antarprovinsi menjadi fokus pembenahan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi juga mendorong pembukaan ruang investasi wisata baru.
Dinas Pariwisata telah melakukan identifikasi titik-titik yang memiliki nilai ekonomi dan potensi kunjungan tinggi, seperti Pulau Panjang, Pulau Pendek, dan beberapa pulau lainnya yang ada di wilayah kepulauan khususnya di Buton Selatan.
Seluruh lokasi ini tengah dikaji dari aspek daya tarik, aksesibilitas, serta kesiapan sosial masyarakat.
Sektor transportasi udara juga mendapat perhatian serius, khususnya penerbangan ke Wakatobi. Saat ini tingkat keterisian pesawat berada pada kisaran 50–60 persen dan terus mengalami tren peningkatan.

“Kalau jadwal pesawat tidak stabil, sulit bagi kita mempromosikan destinasi. Karena itu, rute Selasa–Jumat harus dijaga agar tidak hilang lagi. Bila stabil, subsidi pemerintah bisa dihentikan,” ujar Belli.
Tantangan lain adalah tata kelola destinasi yang masih bergantung pada pemerintah daerah.
Belli menegaskan bahwa desa harus diberdayakan agar mampu mengelola destinasi secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kita dorong desa agar menjadi pengelola utama destinasi. Potensinya besar, tetapi butuh pendampingan supaya manfaatnya kembali ke masyarakat,” tegasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, pariwisata Sultra kini bergerak lebih dinamis dan mulai memperlihatkan hasil nyata bagi perekonomian daerah.
Jika konsistensi ini terjaga, Sultra berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan wisata paling kompetitif di kawasan timur Indonesia.
Laporan: Rul R.









































