KENDARI, LINKSULTRA.COM – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Halu Oleo (UHO), memperkenalkan teknologi komposter drum kepada masyarakat Kecamatan Nambo, Kota Kendari, sebagai upaya mendorong pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.
Pengenalan teknologi tersebut dilakukan melalui kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga menggunakan komposter yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Nambo, Senin (7/9/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan aparatur kecamatan, kader Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), warga, serta generasi muda Kecamatan Nambo.
Ketua tim pelaksana, Dr. Ir. Ranno Marlany Rachman, ST., M.Kes., bersama anggota tim memberikan edukasi mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, khususnya sampah organik yang berasal dari sisa makanan dan bahan dapur.
Ranno menjelaskan bahwa sampah organik masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam timbulan sampah di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 yang tercantum dalam materi kegiatan, sisa makanan menyumbang sekitar 39,87 persen dari total timbulan sampah nasional.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengurangi sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga.
“Pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, dan sisa makanan tertentu masih dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sehingga tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir,” ujar Ranno.

Ia menekankan, pengolahan sampah organik secara mandiri dapat menjadi salah satu solusi sederhana yang bisa diterapkan masyarakat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sistem pengangkutan sampah.
Di Kecamatan Nambo, sebagian sampah organik masih berpotensi tercampur dengan sampah plastik, dibakar, atau ditimbun di pekarangan rumah. Sementara itu, sejumlah wilayah relatif jauh dari jalur utama pengangkutan sampah perkotaan.
Melalui kegiatan tersebut, tim UHO mendorong masyarakat agar mulai mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah rumah tangga, dari yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi bahan yang masih memiliki nilai guna.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa sampah organik bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Jika dipilah dan diolah dengan cara yang tepat, sampah dapur dapat menghasilkan kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman di pekarangan,” tambahnya.
Dalam sesi penyampaian materi, peserta mendapatkan penjelasan mengenai jenis-jenis sampah rumah tangga, dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan, serta penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), yakni mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah.
Tim juga menjelaskan dasar-dasar proses pengomposan, mulai dari pemilihan bahan, keseimbangan bahan hijau dan bahan cokelat, pengaturan kelembapan, hingga pentingnya sirkulasi udara agar proses penguraian berlangsung dengan baik.
Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan komposter drum putar yang dirancang sebagai alat pengolahan sampah organik skala rumah tangga.
Komposter tersebut dibuat menggunakan drum plastik bekas yang dibaringkan dan dilengkapi pintu pengisian berengsel serta berkunci. Pada bagian tengah terdapat poros untuk membantu proses pengadukan, sedangkan pipa kecil disediakan sebagai jalur sirkulasi udara dan pembuangan cairan lindi.
Melalui demonstrasi itu, peserta diperlihatkan cara memasukkan sampah organik yang telah dicacah menjadi bagian-bagian kecil, kemudian mencampurkannya secara bergantian dengan daun kering atau sekam.

Bahan tersebut selanjutnya dapat diberi aktivator pengomposan, seperti EM4, sesuai kebutuhan. Drum diputar secara berkala, sekitar dua hingga tiga hari sekali, untuk membantu mengaduk bahan dan menjaga proses pengomposan.
“Teknologi komposter drum ini kami perkenalkan karena dapat menjadi alternatif pengolahan sampah organik yang relatif sederhana. Masyarakat bisa memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka, termasuk drum plastik bekas, untuk mengolah sampah dapur menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” jelas Ranno.
Ia juga menerangkan bahwa keberhasilan pengomposan dipengaruhi oleh kondisi bahan, kelembapan, dan sirkulasi udara. Apabila dikelola dengan benar, kompos umumnya dapat dipanen dalam waktu sekitar tiga hingga enam minggu.
Kompos yang matang biasanya memiliki warna cokelat kehitaman, tekstur remah, serta aroma menyerupai tanah. Sementara itu, cairan lindi yang dihasilkan selama proses pengomposan perlu ditangani dengan tepat dan dapat dimanfaatkan sesuai karakteristik serta pengenceran yang sesuai.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung, terutama ketika sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah hal yang dibahas meliputi jenis sampah yang dapat dimasukkan ke dalam komposter, cara mengatasi bau tidak sedap, serta lamanya proses pengomposan hingga kompos siap digunakan.
Pada akhir kegiatan, tim pelaksana menyerahkan satu unit komposter drum secara simbolis kepada Pemerintah Kecamatan Nambo. Penyerahan dilakukan oleh Ranno dan diterima oleh staf Kecamatan Nambo, Arling Habir.
Komposter tersebut diharapkan menjadi sarana percontohan yang dapat dimanfaatkan aparatur kecamatan bersama kader TP PKK untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik sekaligus memperkenalkan metode serupa kepada masyarakat.
Perwakilan Kecamatan Nambo menyambut baik kegiatan edukasi tersebut karena memberikan pengetahuan praktis kepada masyarakat mengenai cara mengurangi sampah rumah tangga.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan pengetahuan dan contoh langsung kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah organik. Komposter drum yang diserahkan diharapkan dapat menjadi percontohan bagi warga untuk mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah,” ujar perwakilan Kecamatan Nambo.
Pihak kecamatan juga diharapkan dapat mendorong keterlibatan kader TP PKK dan masyarakat di tingkat kelurahan agar praktik pengomposan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Selain memberikan edukasi, tim UHO membuka ruang konsultasi bagi warga yang mengalami kendala dalam proses pengomposan. Pendampingan lanjutan bersama kader PKK juga direncanakan untuk mendukung penerapan teknologi tersebut di lingkungan masyarakat.
Ranno berharap pengenalan komposter drum dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengurangi sampah dari sumbernya dan memanfaatkan kembali bahan organik yang masih memiliki nilai guna.
“Perubahan pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami berharap masyarakat mulai membiasakan diri memilah sampah, mengurangi sampah yang dibuang, dan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos. Langkah sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi kebersihan lingkungan sekaligus mendukung penghijauan di pekarangan rumah,” tutupnya.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik UHO, melalui skema Pengabdian Dasar Internal Fakultas Teknik UHO sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Tim pelaksana terdiri atas Dr. Ir. Ranno Marlany Rachman sebagai ketua, bersama Ir. Tryantini Sundi Putri, ST., M.Eng.; Dr. Hj. Nini Hasriyani Aswad, ST., MT.; Susanti Djalante, ST., MT., M.Sc.; Dr. Tachrir, ST., MT., IPU; Rini Sriyani, ST., MT.; dan Rudi Balaka, ST., MT.
Tiga mahasiswa yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut yakni Dadang Efendy, Desita Maharani, dan Adhi Guna Hasdana Badri.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, kader PKK, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di Kecamatan Nambo.
Laporan : Redaksi












































