KENDARI, LINKSULTRA.COM – Pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sepanjang tahun 2025 mengalami dinamika yang cukup signifikan.
Dinas Pariwisata Sultra mencatat sebanyak 9,8 juta perjalanan masuk ke berbagai daerah di provinsi itu, menegaskan bahwa Sultra tetap menjadi salah satu destinasi penting bagi wisatawan domestik di kawasan timur Indonesia.
Tren tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata regional terus bergerak, sekalipun mengalami penyesuaian akibat kebijakan pembangunan yang lebih menitikberatkan pada infrastruktur.
Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Belli Harli Tombili, menjelaskan bahwa Kota Kendari masih menjadi titik konsentrasi terbesar pergerakan wisatawan.
Berdasarkan data yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS), total perjalanan wisnus yang masuk ke Kendari mencapai 2.817.091 atau 28,49 persen dari seluruh aktivitas perjalanan di Sultra.

Dominasi ini dipengaruhi oleh karakter Kota Kendari sebagai wilayah dengan aktivitas ekonomi, sosial, dan kuliner yang sangat dinamis.
“Kendari terus menjadi pusat magnet wisata. Bukan hanya karena posisinya sebagai ibu kota provinsi, melainkan karena preferensi wisatawan yang kini semakin condong pada wisata urban, kuliner, dan aktivitas berbasis gaya hidup. Mobilitas antar-daerah yang tinggi juga menambah kontribusi kunjungan,” ujar Belli di Kendari, Senin.
Selain Kendari, beberapa daerah lain juga mencatat kontribusi signifikan. Kabupaten Konawe Selatan berada di posisi kedua dengan sekitar 1,2 juta perjalanan.
Kabupaten Konawe menyusul dengan 1 juta perjalanan. Sementara Kolaka mencatat sekitar 727 ribu kunjungan, dan Kota Baubau berada pada kisaran 650 ribu perjalanan wisnus. Lima daerah tersebut menjadi penyumbang utama pergerakan wisatawan di Sultra.
Meski demikian, angka tahun 2025 tercatat sedikit menurun dibandingkan 2024. Pada periode Januari–September 2024, total perjalanan wisnus mencapai 9,9 juta, sehingga terjadi selisih penurunan sekitar 51 ribu perjalanan.
Belli menilai bahwa kondisi tersebut dipengaruhi faktor penyesuaian anggaran daerah, terutama karena porsi belanja pemerintah diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur skala besar.

“Kita memahami bahwa prioritas pembangunan bergerak lebih luas. Beberapa program pariwisata memang mengalami penyesuaian, tetapi pengaruh jangka panjangnya justru positif. Infrastruktur yang lebih baik akan meningkatkan mobilitas dan memudahkan akses ke destinasi,” jelasnya.
Meski ada penurunan tipis, Dispar Sultra tetap optimistis bahwa total angka akhir 2025 akan stabil. Berdasarkan tren tahunan, peningkatan perjalanan biasanya terjadi pada kuartal akhir seiring libur panjang akhir tahun, kegiatan keluarga, dan aktivitas masyarakat di daerah perkotaan.
“Melihat pergerakan tahun-tahun sebelumnya, tren wisnus menjelang Desember selalu meningkat. Kami memperkirakan total kunjungan tahun ini tidak akan jauh berbeda dari tahun lalu. Bisa sedikit menurun, tetapi sangat mungkin juga sedikit meningkat,” kata Belli.
Selain memperkuat wisata kota, Pemprov Sultra menempatkan sektor desa wisata sebagai strategi percepatan pemerataan pariwisata. Dispar Sultra telah memetakan 325 desa wisata yang disiapkan sebagai destinasi baru untuk menarik wisatawan dengan karakter minat khusus, budaya lokal, dan keindahan alam pedesaan.
Pengembangan ini diharapkan dapat mengurangi ketimpangan jumlah kunjungan yang selama ini terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Dengan total kunjungan 9,8 juta perjalanan, Sulawesi Tenggara tetap menunjukkan peran vital dalam peta pergerakan wisata domestik di Indonesia timur.
Keragaman lanskap, meningkatnya aksesibilitas, serta inovasi pengembangan desa wisata menjadi fondasi utama yang memperkuat daya saing sektor pariwisata daerah.
Laporan: Rul R.










































