FUZHOU, TIONGKOK, LINKSULTRA.COM– Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Ridwan Badallah, mewakili Gubernur Sulawesi Tenggara dalam ajang internasional The World Maritime Equipment Conference 2026, pada forum Marine Biomedicine and Blue Economic Development yang berlangsung di Fuzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, Jumat (16/10/2026).
Dalam forum yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Fujian tersebut, Ridwan Badallah tampil sebagai pembicara untuk memaparkan potensi ekonomi biru dan biomedis kelautan Sulawesi Tenggara di hadapan perwakilan berbagai negara.
Kehadiran Ridwan menjadi kesempatan bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk memperkenalkan kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan daerah sekaligus membuka peluang kerja sama internasional dalam pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Dalam paparannya, Ridwan menjelaskan bahwa potensi ekonomi biru Sulawesi Tenggara tersebar di 17 kabupaten/kota. Untuk mendukung pengelolaan yang terarah, wilayah tersebut dipetakan ke dalam empat kawasan utama berdasarkan karakteristik dan potensi sumber daya masing-masing.
Wilayah pertama meliputi Kabupaten Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana. Wilayah kedua mencakup Kabupaten Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe, serta Kota Kendari.
Wilayah ketiga meliputi Kabupaten Buton Tengah, Muna, Muna Barat, dan Buton Utara. Sementara wilayah keempat mencakup Kabupaten Wakatobi, Buton Selatan, Buton, serta Kota Baubau.
Pemetaan tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi biru Sulawesi Tenggara dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah, potensi sumber daya alam, infrastruktur, serta peluang pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.
“Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat besar dan tersebar di 17 kabupaten/kota. Potensi ini perlu dikelola secara terintegrasi melalui pengembangan ekonomi biru, inovasi teknologi, serta kerja sama dengan berbagai pihak agar memberikan nilai tambah bagi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” demikian rumusan kutipan yang dapat digunakan untuk menggambarkan materi paparan Ridwan.
Ridwan juga memaparkan beragam potensi sumber daya alam Sultra, mulai dari wilayah kelola laut, garis pantai, hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, kawasan rawa, danau, hingga sungai-sungai besar.
Selain sumber daya kelautan, potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan turut menjadi bagian dari materi yang diperkenalkan kepada peserta forum. Paparan tersebut juga mencakup infrastruktur pendukung sektor kelautan dan perikanan, termasuk pelabuhan perikanan beserta fasilitas yang tersedia.
Wakatobi Berpotensi Mendukung Pengembangan Biomedis Kelautan
Dalam pembahasan mengenai marine biomedicine atau biomedis kelautan, Ridwan menyoroti potensi keanekaragaman hayati laut Sulawesi Tenggara yang dapat dikembangkan melalui riset dan inovasi.
Potensi tersebut antara lain berasal dari ekosistem terumbu karang yang tersebar di wilayah pesisir dan kepulauan, dengan Kepulauan Wakatobi sebagai salah satu kawasan yang menonjol.
Selain terumbu karang, potensi biota laut, hutan mangrove, dan spons laut di berbagai kabupaten/kota juga menjadi bagian dari kekayaan sumber daya hayati yang dapat dieksplorasi untuk mendukung pengembangan riset kelautan dan biomedis.
“Selain memiliki potensi perikanan yang besar, Sulawesi Tenggara juga mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati laut yang dapat menjadi peluang pengembangan biomedis kelautan. Potensi terumbu karang, spons laut, mangrove, dan biota laut lainnya perlu didukung penelitian, inovasi, serta pemanfaatan yang berkelanjutan,” demikian rumusan kutipan yang dapat dimasukkan dalam bagian paparan Ridwan.
Pengembangan biomedis kelautan memerlukan dukungan riset ilmiah, teknologi, dan kemitraan antarlembaga agar pemanfaatan sumber daya laut dapat menghasilkan nilai tambah tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem.
Karena itu, penguatan kerja sama internasional menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan Sulawesi Tenggara untuk mendorong inovasi sekaligus memperluas pemanfaatan sumber daya kelautan secara bertanggung jawab.
Potensi Perikanan Sultra Capai Ratusan Ribu Ton
Dalam paparannya, Ridwan turut mengungkapkan besarnya potensi perikanan Sulawesi Tenggara yang berada dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 dan 714.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) di WPPNRI 713 mencapai 697.730 ton per tahun. Sementara itu, JTB di WPPNRI 714 mencapai 731.486 ton per tahun.
Besarnya daya dukung sumber daya perikanan tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan produksi, memperkuat industri pengolahan, serta memperluas akses pasar produk perikanan Sultra.
Data sementara Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk 2025 mencatat potensi perikanan tangkap berupa ikan tuna sebesar 16.021 ton, ikan cakalang 19.753 ton, dan ikan tongkol 16.489 ton.
Komoditas tersebut memiliki peluang pengembangan pasar ekspor ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Belanda, Singapura, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat.
Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tenggara juga memiliki potensi budidaya rumput laut yang mencapai 212.992 ton berdasarkan data yang dipaparkan.
Potensi ini dapat dikembangkan melalui penguatan industri hilir, peningkatan kualitas produk, penerapan teknologi pengolahan, serta kemitraan dengan investor dan pelaku usaha internasional.
“Dengan potensi perikanan tangkap dan budidaya rumput laut yang kita miliki, Sulawesi Tenggara mempunyai peluang untuk meningkatkan nilai tambah produk kelautan. Kami ingin potensi ini tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dikembangkan melalui pengolahan, inovasi, dan kemitraan yang mampu membuka peluang investasi serta lapangan kerja,” demikian rumusan kutipan yang dapat digunakan untuk memperkuat pesan mengenai peluang ekonomi biru Sultra.
Sultra Buka Peluang Kerja Sama dengan Berbagai Negara
Melalui forum internasional tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara membuka peluang kerja sama pengembangan ekonomi biru, tidak hanya dengan Pemerintah Provinsi Fujian, tetapi juga dengan negara-negara yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Sejumlah negara yang berpotensi menjadi mitra penjajakan kerja sama antara lain Singapura, Polandia, Maroko, serta negara-negara lainnya.
Kerja sama tersebut dapat diarahkan pada pengembangan industri perikanan, budidaya rumput laut, pengolahan hasil laut, penelitian biomedis kelautan, transfer teknologi, hingga pengembangan investasi berbasis sumber daya maritim.
“Kami terbuka untuk menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Fujian dan negara-negara peserta lainnya. Sulawesi Tenggara memiliki potensi yang dapat dikembangkan bersama, baik di bidang ekonomi biru, perikanan, budidaya rumput laut, maupun biomedis kelautan. Kami berharap forum ini menjadi pintu masuk bagi kolaborasi yang konkret dan saling menguntungkan,” demikian rumusan kutipan yang dapat digunakan untuk menggambarkan arah kerja sama yang ditawarkan Sultra.
Keterlibatan Sulawesi Tenggara dalam forum ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan peluang investasi daerah kepada mitra internasional dan menjajaki kolaborasi yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dengan sumber daya kelautan yang luas, keanekaragaman hayati laut, serta potensi perikanan tangkap dan budidaya, Sulawesi Tenggara memiliki peluang untuk mengembangkan ekonomi biru sebagai salah satu penggerak pembangunan daerah.
Mewakili Gubernur Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah membawa gagasan pengembangan ekonomi biru dan biomedis kelautan ke panggung internasional The World Maritime Equipment Conference 2026 di Fuzhou, Fujian, Tiongkok.
Melalui forum tersebut, Sultra membuka ruang kolaborasi dengan berbagai negara untuk mendorong inovasi maritim, meningkatkan nilai tambah sumber daya laut, dan memperkuat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Laporan : Rul R






































