KENDARI, LINKSULTRA.COM – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Tenggara, Asrun Lio, bersiap menutup satu bab penting dalam perjalanan pengabdiannya di birokrasi pemerintahan daerah. Setelah menempati posisi tertinggi dalam karier aparatur sipil negara (ASN) di lingkup provinsi, ia memutuskan kembali ke dunia akademik untuk melanjutkan pengabdian intelektualnya dan mengejar cita-cita menjadi guru besar.
Bagi Asrun Lio, jabatan Sekda merupakan puncak karier birokrasi yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Namun di balik capaian tersebut, ia masih memiliki impian yang belum terwujud di bidang akademik.
“Setelah mencapai puncak karier sebagai Sekda, saya merasa sudah menjalankan amanah yang besar bagi Sulawesi Tenggara. Namun sebagai akademisi, cita-cita saya untuk meraih guru besar belum tercapai. Jika saya menunda kembali ke kampus, peluang itu bisa terlewatkan. Maka saat ini saya memutuskan kembali ke kampus agar pengabdian di ranah ilmu tetap berlanjut,” ujarnya.
Selama menjabat sebagai Sekda, Asrun Lio tidak hanya menjalankan fungsi administratif pemerintahan. Ia berada di jantung birokrasi provinsi, memastikan koordinasi antarperangkat daerah berjalan efektif serta kebijakan pemerintah dapat dilaksanakan secara optimal di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Mendampingi Tiga Gubernur Sultra
Perjalanan pengabdian Asrun Lio sebagai Sekda menjadi unik karena ia mendampingi tiga kepemimpinan gubernur dengan dinamika yang berbeda-beda.
Fase pertama berlangsung pada masa pemerintahan Gubernur Sultra Ali Mazi bersama Wakil Gubernur Lukman Abunawas. Periode ini diwarnai krisis global akibat pandemi COVID-19 yang berdampak besar terhadap hampir seluruh sektor kehidupan.
Pada masa tersebut, pemerintah daerah dituntut bergerak cepat menyeimbangkan penanganan kesehatan masyarakat dengan menjaga stabilitas ekonomi, pendidikan, serta pelayanan publik. Koordinasi birokrasi menjadi kunci agar berbagai kebijakan penanganan pandemi dapat berjalan hingga tingkat kabupaten dan kota.

Di masa yang sama, duka juga menyelimuti kepemimpinan daerah ketika Gubernur Ali Mazi dan Wakil Gubernur Lukman Abunawas masing-masing kehilangan istri tercinta. Dalam situasi penuh tantangan tersebut, stabilitas pemerintahan tetap harus dijaga agar pelayanan publik tidak terganggu.
Fase kedua terjadi ketika Sulawesi Tenggara dipimpin oleh Penjabat Gubernur Andap Budhi Revianto. Pada masa ini, fokus pemerintahan tertuju pada menjaga stabilitas daerah serta mengawal berbagai agenda demokrasi nasional.
Birokrasi provinsi dituntut tetap profesional dan menjaga netralitas aparatur sipil negara di tengah dinamika politik. Pemerintah daerah juga harus memastikan berbagai program sosial tetap berjalan, sekaligus menjaga pengendalian inflasi dan stabilitas ekonomi daerah.
Selanjutnya, perjalanan pengabdian Asrun Lio berlanjut pada awal pemerintahan Gubernur Sultra Andi Sumangerukka bersama Wakil Gubernur Hugua. Pada fase ini, ia turut mengawal konsolidasi birokrasi pasca pemilihan kepala daerah serta penyelarasan berbagai program pembangunan daerah.
Pengalaman Berharga dalam Birokrasi
Bagi Asrun Lio, mendampingi tiga pemimpin daerah dengan karakter kepemimpinan yang berbeda merupakan pengalaman yang sangat berharga. Ia menilai keberhasilan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh satu figur, melainkan oleh kerja kolektif seluruh unsur birokrasi serta dukungan masyarakat.
“Semua ini adalah perjalanan pengabdian. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari proses pembangunan daerah bersama para gubernur, Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara,” ungkapnya.
Kini, ketika bersiap kembali ke dunia kampus, Asrun Lio membawa bekal pengalaman panjang dari ruang-ruang pengambilan kebijakan dan dinamika pemerintahan daerah. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi kontribusi penting dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya bagi generasi muda di Sulawesi Tenggara.

Pengabdian mungkin berpindah ruang, dari birokrasi ke dunia akademik. Namun bagi Asrun Lio, semangatnya tetap sama: bekerja untuk kemajuan daerah dan masa depan generasi yang akan datang.
Laporan : Rul R.










































