KENDARI, LINKSULTRA.COM – Ribuan dulang yang tersusun rapi di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari, Minggu (19/7/2026), bukan sekadar hidangan tradisional.
Di balik 1.228 dulang yang disajikan dalam Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara, tersimpan filosofi persatuan, gotong royong, dan penghormatan kepada sesama yang telah diwariskan masyarakat Muna selama berabad-abad.
Tradisi yang menjadi bagian dari Ritual Haroa tersebut berhasil mendapat pengakuan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori “Ritual Haroa dengan Sajian Makanan Menggunakan Dulang Terbanyak.” Namun, bagi masyarakat Muna, nilai budaya yang terkandung di dalamnya jauh lebih penting dibanding sekadar pencapaian sebuah rekor.
Ketua Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi momentum memperkenalkan kekayaan budaya Wuna kepada masyarakat Indonesia bahkan dunia.
“Dulang bukan hanya tempat menyajikan makanan. Dulang adalah simbol persatuan masyarakat Muna. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, penghormatan kepada tamu, gotong royong, doa, dan harapan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu,” ujar La Ode Darwin.
Menurutnya, dalam setiap prosesi adat masyarakat Muna, dulang memiliki kedudukan yang sangat penting. Satu dulang dinikmati secara bersama-sama oleh 10 hingga 15 orang, bahkan dapat mencapai 30 orang pada ukuran yang lebih besar.
Tradisi makan bersama tersebut mengajarkan bahwa seluruh masyarakat duduk dalam posisi yang sama tanpa membedakan status sosial, sehingga menjadi simbol kuat persaudaraan dan kebersamaan.
“Melalui satu dulang, masyarakat belajar berbagi, menghargai sesama, dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Nilai inilah yang ingin kami wariskan kepada generasi muda agar budaya Muna tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” katanya.
La Ode Darwin menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dijaga sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia.
Ia berharap pengakuan dari MURI menjadi pintu masuk agar tradisi masyarakat Muna semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Silaturahmi Akbar KKMM Sultra tahun ini mengusung tema “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045.” Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 10 ribu peserta yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara.
Ketua Panitia Pelaksana, Dr. L.M. Bariun, S.H., M.H., mengatakan penyelenggaraan kegiatan merupakan hasil gotong royong seluruh masyarakat Muna yang memiliki semangat sama untuk menjaga warisan budaya leluhur.
“Target kami bukan hanya menghadirkan ribuan dulang, tetapi memperkuat kembali nilai-nilai Kawunaha yang menjadi falsafah hidup masyarakat Muna, yakni persaudaraan, kebersamaan, dan saling menghormati,” ujarnya.
Selain penyajian 1.228 dulang, masyarakat juga disuguhkan berbagai pertunjukan budaya Wuna yang kini mulai jarang ditampilkan, seperti Kabasano Haroa sebagai ritual doa bersama, Ewa Wuna (seni bela diri tradisional), Modero sebagai tarian pergaulan, Kantola atau tradisi berbalas pantun dalam bahasa Muna, Lariangi, Tari Linda, hingga Kambero atau perkelahian kuda yang menjadi salah satu atraksi budaya paling unik dari Pulau Muna.
Seluruh pertunjukan tersebut menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Wuna yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung pesan moral tentang keberanian, persaudaraan, kesopanan, dan penghormatan terhadap leluhur.
La Ode Darwin menambahkan, masyarakat Muna juga berharap kekayaan budaya tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi sejarah dan pariwisata Pulau Muna kepada dunia, termasuk keberadaan situs prasejarah Liang Kobori yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan lukisan gua tertua di dunia.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Ketika budaya kita dikenal dunia, maka masyarakat Muna ikut memperkenalkan Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan peradaban. Harapan kami, tradisi ini terus hidup dan menjadi kebanggaan generasi mendatang,” pungkas La Ode Darwin.
Laporan : Rul R.










































