Babak Baru Persatuan Masyarakat Adat Tolaki Sulawesi Tenggara
Penulis: Adi Yusuf Tamburaka
Ketua Umum Permata Sultra
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Perubahan sebuah organisasi bukan semata-mata pergantian nama. Di balik perubahan itu terdapat harapan, evaluasi, dan tekad untuk membangun wadah yang lebih kuat dalam menjaga martabat, adat istiadat, budaya, serta hak-hak Masyarakat Adat Tolaki di Sulawesi Tenggara.
Dalam semangat tersebut, lembaga masyarakat adat Tolaki yang sebelumnya menjadi wadah perjuangan bersama akan diakhiri keberadaannya dan dilanjutkan dengan nama baru: PERMATA-SULTRA — Lembaga Pemersatu Masyarakat Adat Tolaki Sulawesi Tenggara.
PERMATA-SULTRA diharapkan bukan sekadar organisasi dengan nama baru, tetapi menjadi rumah bersama seluruh Masyarakat Adat Tolaki. Sebuah wadah yang mampu menyatukan tokoh adat, generasi muda, perempuan adat, para pemangku kepentingan budaya, serta seluruh keluarga besar Tolaki dalam satu semangat: bersatu dalam adat, kuat dalam budaya, dan maju dalam kebersamaan.
Perubahan ini juga harus dimaknai sebagai upaya melakukan pembenahan dan memperkuat kembali arah perjuangan masyarakat adat. Sebuah lembaga adat akan memiliki arti ketika keberadaannya mampu menghadirkan manfaat, menjaga kehormatan adat, memperkuat persaudaraan, serta menjadi ruang bersama untuk menyampaikan aspirasi masyarakat adat secara bermartabat.
Karena itu, PERMATA-SULTRA diharapkan tumbuh sebagai lembaga yang terbuka, inklusif, dan mampu merangkul seluruh elemen Masyarakat Adat Tolaki tanpa membedakan latar belakang, wilayah, kelompok maupun generasi.
Deklarasi di Kompleks Makam Raja Lakidende
Momentum deklarasi PERMATA-SULTRA direncanakan berlangsung dalam waktu dekat di Kompleks Makam Raja Lakidende, sebuah tempat yang memiliki nilai historis dan simbolis bagi perjalanan sejarah masyarakat Tolaki.
Pemilihan tempat tersebut bukan tanpa makna.
Makam leluhur bukan sekadar tempat bersemayamnya jasad para pendahulu. Ia adalah ruang untuk mengingat sejarah, menghormati leluhur, dan meneguhkan kembali identitas serta tanggung jawab generasi hari ini terhadap warisan yang telah dititipkan oleh generasi terdahulu.
Di tempat-tempat bersejarah seperti inilah generasi hari ini seharusnya kembali menyadari bahwa perjalanan masyarakat Tolaki tidak dimulai pada hari ini. Ada sejarah panjang, ada perjuangan para leluhur, ada nilai-nilai adat yang diwariskan, dan ada tanggung jawab yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, deklarasi PERMATA-SULTRA akan dirangkaikan dengan Mosehe Wonua, sebagai momentum budaya dan spiritual untuk memohon keselamatan, membersihkan niat, mempererat persaudaraan, serta membuka lembaran baru bagi perjuangan masyarakat adat.
Mosehe Wonua hendaknya tidak hanya dipahami sebagai sebuah rangkaian seremonial, tetapi juga sebagai simbol untuk membersihkan hati dan pikiran, meninggalkan berbagai perbedaan yang dapat memecah persaudaraan, serta meneguhkan kembali niat bersama untuk membangun masyarakat adat yang lebih bersatu.
Dari makam leluhur, kita mengingat sejarah.
Dari Mosehe Wonua, kita membersihkan niat.
Dari deklarasi PERMATA-SULTRA, kita membangun masa depan.
PERMATA-SULTRA Bukan Milik Segelintir Orang
Yang paling penting dari lahirnya PERMATA-SULTRA adalah memastikan bahwa lembaga ini tidak menjadi milik kelompok atau kepentingan tertentu.
PERMATA-SULTRA harus menjadi wadah pemersatu.
Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah masyarakat yang besar. Namun, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persaudaraan. Adat mengajarkan penghormatan, budaya mengajarkan kebersamaan, dan sejarah mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat terletak pada persatuan.
PERMATA-SULTRA harus mampu berdiri di atas kepentingan pribadi, kelompok maupun kepentingan politik praktis. Lembaga ini harus berorientasi pada kepentingan yang lebih besar: kehormatan adat, kelestarian budaya, perlindungan hak masyarakat adat, serta masa depan generasi Tolaki.
Dalam perjalanan ke depan, PERMATA-SULTRA juga harus membangun tata kelola organisasi yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab. Setiap keputusan harus dilandasi musyawarah, penghormatan terhadap nilai adat, serta kepentingan masyarakat secara luas.
Kekuatan sebuah lembaga adat bukan semata-mata terletak pada struktur kepengurusannya, tetapi pada sejauh mana lembaga tersebut dipercaya oleh masyarakat. Kepercayaan itulah yang harus dijaga melalui keteladanan, keterbukaan, konsistensi dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat adat.
Visi PERMATA-SULTRA
“Terwujudnya Masyarakat Adat Tolaki Sulawesi Tenggara yang bersatu, berdaulat dalam adat, lestari dalam budaya, bermartabat, sejahtera, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah dan bangsa.”
Misi PERMATA-SULTRA
Mempererat persatuan dan kesatuan Masyarakat Adat Tolaki di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Melestarikan adat, budaya, bahasa, sejarah, situs leluhur, dan kearifan lokal Tolaki sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Memperjuangkan dan mengawal hak-hak Masyarakat Adat sesuai dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mendorong perlindungan terhadap tanah ulayat, situs sejarah, makam leluhur, dan kawasan yang memiliki nilai adat dan budaya.
Meningkatkan peran generasi muda Tolaki sebagai penerus adat, budaya, dan perjuangan masyarakat adat.
Mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat adat agar mampu mandiri, produktif, dan sejahtera.
Membangun kemitraan strategis dengan pemerintah, lembaga adat, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Menjadikan adat dan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah, bukan sekadar simbol seremonial.
Generasi Muda Adalah Masa Depan Adat
Salah satu pekerjaan besar PERMATA-SULTRA adalah memastikan generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan akar budayanya.
Di tengah perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, adat dan budaya menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, generasi muda harus diberikan ruang untuk belajar, memahami, mencintai, dan mengembangkan budaya Tolaki dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan organisasi adat. Mereka harus menjadi bagian dari proses, diberikan kepercayaan, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, serta dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan masyarakat adat.
Dengan demikian, adat tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi nilai yang hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat masa kini dan masa depan.

Adat, Budaya dan Pembangunan
Masyarakat adat tidak boleh ditempatkan hanya sebagai objek dalam pembangunan. Masyarakat adat harus menjadi bagian penting dari pembangunan daerah.
Adat dan budaya memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas daerah, mengembangkan pariwisata berbasis budaya, mendorong ekonomi kreatif, memperkuat pendidikan karakter, serta membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Karena itu, PERMATA-SULTRA harus mampu membangun komunikasi dan kemitraan yang baik dengan pemerintah daerah maupun seluruh pemangku kepentingan. Hubungan tersebut harus dibangun dalam semangat kemitraan, saling menghormati dan tetap menjaga independensi lembaga adat.
Kepentingan masyarakat adat harus dapat disuarakan melalui jalur yang bermartabat, berdasarkan data, sejarah, nilai adat, serta ketentuan hukum yang berlaku.
Satu Adat, Satu Hati, Satu Tujuan
Lahirnya PERMATA-SULTRA harus menjadi momentum untuk mengakhiri ego-ego sektoral dan menghidupkan kembali semangat Kalo Sara sebagai nilai persatuan, penghormatan, dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Tolaki.
Kita tidak sedang membangun sekadar sebuah organisasi.
Kita sedang membangun rumah besar Masyarakat Adat Tolaki.
Rumah yang pintunya terbuka bagi seluruh anak Tolaki, rumah yang menghormati para leluhur, menjaga adat istiadat, melindungi warisan budaya, dan memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengambil bagian dalam menentukan masa depan.
Rumah besar itu tidak boleh berdiri di atas kepentingan segelintir orang. Ia harus berdiri di atas nilai persaudaraan, penghormatan terhadap adat, kecintaan terhadap budaya dan komitmen untuk menjaga masa depan masyarakat Tolaki.
Deklarasi di Kompleks Makam Raja Lakidende dan rangkaian Mosehe Wonua hendaknya menjadi titik awal perjalanan tersebut.
PERMATA-SULTRA harus lahir dengan niat yang bersih, berdiri dengan persatuan, bergerak dengan adat, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Sebab ketika adat dijaga, identitas tidak akan hilang.
Ketika budaya dilestarikan, sejarah tidak akan dilupakan.
Dan ketika masyarakat adat bersatu, maka masa depan dapat dibangun dengan lebih bermartabat.
PERMATA-SULTRA
LEMBAGA PEMERSATU MASYARAKAT ADAT TOLAKI SULAWESI TENGGARA
BERSATU DALAM ADAT
KUAT DALAM BUDAYA
MAJU DALAM KEBERSAMAAN
SATU ADAT — SATU HATI — SATU TUJUAN










































