KENDARI, LINKSULTRA.COM – Di tengah riuhnya koridor kekuasaan, selalu ada sosok yang memilih bekerja dalam senyap, mengandalkan presisi, bukan sensasi. Di balik meja kerja Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Sulawesi Tenggara, duduk seorang birokrat yang kini memasuki fase baru dalam perjalanan hidupnya. Ia adalah Dr. Mujahidin, S.Pd., S.H., M.H.
Gelar doktor yang baru saja diraihnya di Universitas Hasanuddin bukan sekadar pencapaian akademik. Ia adalah penanda perjalanan panjang seorang anak petani yang ditempa oleh kerasnya kehidupan, lalu menembus batas hingga ke puncak birokrasi dan dunia keilmuan.
Anak Petani, Fondasi Ketekunan
Lahir di Tanjung Tiram pada 1971, Mujahidin tumbuh dari keluarga sederhana. Ia besar di bawah “tangan dingin” orang tua yang berprofesi sebagai petani—lingkungan yang membentuk karakter disiplin, ketekunan, dan daya juang sejak usia dini.
Dari ladang dan kehidupan desa, ia belajar satu hal penting: hasil tidak pernah mengkhianati proses. Nilai itu yang kemudian ia bawa ke dalam setiap tahap kehidupannya, baik dalam pendidikan maupun karier birokrasi.
Perjalanannya dimulai dari titik nol sebagai CPNS pada 1998. Ia menapaki tangga birokrasi secara bertahap, tanpa jalan pintas. Dari jabatan teknis hingga posisi strategis, semua dilalui dengan konsistensi yang sama—bekerja, belajar, dan terus memperbaiki diri.
Dari Praktisi Menjadi Doktor
Yang membedakan Mujahidin adalah pilihannya untuk tidak berhenti pada pengalaman lapangan. Di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, ia tetap menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor di bidang ilmu hukum.
Capaian ini menjadikannya lebih dari sekadar birokrat. Ia adalah birokrat-akademisi—figur yang tidak hanya menjalankan kebijakan, tetapi juga memahami dan mengkaji dasar-dasar ilmiahnya.
Jika sebelumnya ia dikenal sebagai “kamus berjalan” dalam urusan aset dan audit daerah, kini kapasitasnya semakin lengkap: pengalaman teknokratis yang dipadukan dengan kedalaman analisis akademik.
Kepemimpinan di Persimpangan Ilmu dan Pengabdian
Sejak awal, latar belakang pendidikannya memang membentuk karakter yang unik. Ia mengawali dari dunia pendidikan (S.Pd.), kemudian memperdalam hukum (S.H., M.H.), hingga mencapai puncak akademik sebagai doktor ilmu hukum.
Perpaduan ini melahirkan gaya kepemimpinan yang khas—empati seorang pendidik, ketegasan seorang ahli hukum, serta ketajaman berpikir seorang akademisi.
Baginya, birokrasi bukan sekadar soal administrasi, melainkan instrumen untuk menciptakan keadilan dan kepastian bagi masyarakat.
Ahli Strategi dengan Akar yang Kuat
Kini, sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Mujahidin berada di pusat pengambilan kebijakan strategis daerah. Ia menjembatani antara perencanaan makro pemerintah dengan realitas di lapangan.
Pengalamannya sebagai Kepala Bapenda dan Kepala BPKAD membuatnya memahami betul bagaimana mengelola keuangan dan aset daerah secara efektif. Sementara latar belakang akademiknya memberinya perspektif lebih luas dalam melihat kebijakan secara sistemik.
Namun di balik semua itu, ia tetap sosok yang berpijak pada akar: nilai-nilai kesederhanaan, kerja keras, dan kejujuran yang ia bawa sejak kecil sebagai anak petani.
Dua Dekade Pengabdian, Satu Arah
Penghargaan Satyalancana Karya Satya yang ia terima menjadi bukti atas dedikasi panjangnya dalam pemerintahan. Lebih dari sekadar masa kerja, penghargaan itu mencerminkan konsistensi dalam menjaga integritas.
Di tengah dinamika birokrasi dan politik, Mujahidin tetap berdiri sebagai figur profesional yang menjaga nilai pengabdian di atas segalanya.
Di luar jabatan, ia adalah pribadi yang sederhana. Bersama sang istri, Yeni, SE., ME., ia menjalani kehidupan yang tenang—cerminan dari prinsip hidup yang tidak berubah sejak awal.
Dari Ladang ke Ruang Kebijakan
Kisah Mujahidin adalah tentang perjalanan panjang dari kesederhanaan menuju pengaruh. Dari ladang seorang anak petani di Tanjung Tiram, hingga ruang-ruang strategis pemerintahan provinsi.
Kini, dengan gelar doktor di pundaknya, ia tidak hanya menjaga tata kelola, tetapi juga menenun masa depan Sulawesi Tenggara dengan pendekatan yang lebih ilmiah, terukur, dan berkelanjutan.
Ia adalah bukti bahwa ketekunan, integritas, dan pendidikan dapat berjalan beriringan—membentuk seorang birokrat yang tidak hanya bekerja, tetapi juga berpikir, dan memberi arah.
Highlight Profil:
• Asal: Anak petani dari Tanjung Tiram
• Gelar: Doktor Ilmu Hukum – Universitas Hasanuddin Makassar
• Spesialisasi: Audit Investigatif, Manajemen Aset, Hukum Administrasi Negara
• Filosofi: Transparansi sebagai fondasi pembangunan
• Prestasi: Terbaik II Diklat PIM II Nasional & Satyalancana Karya Satya 20 Tahun
















































