Golkar Belajar ke Tiongkok: Diplomasi Politik dan Hilirisasi untuk Masa Depan Indonesia

Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin

– Ketua Delegasi Partai Golkar Tiongkok Permanent Member of the International Movement for the Liberation of Nations, headquartered in Moscow Russia
– Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional.
– Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan.

JAKARTA, LINKSULTRA.COM – Menjelang keberangkatan delegasi Partai Golkar ke Tiongkok, kami mendapat kesempatan bersilaturahmi sekaligus menerima arahan langsung dari Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Pertemuan yang berlangsung pada 14 Juli 2026 itu bukan sekadar seremoni pelepasan, melainkan penegasan bahwa kunjungan ini merupakan misi strategis untuk memperkuat kapasitas kader, memperluas diplomasi politik, serta membawa pulang pengalaman yang dapat mendukung pembangunan Indonesia.

Bahlil menerima 20 anggota delegasi yang berasal dari berbagai organisasi sayap dan organisasi Hasta Karya Partai Golkar. Dalam pertemuan tersebut, ia didampingi Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar sekaligus Ketua Umum DPP Ormas MKGR, Wihaji.

Ketua Umum menegaskan bahwa perjalanan ke Tiongkok tidak boleh dipahami sebagai wisata politik ataupun kunjungan seremonial. Delegasi berangkat membawa mandat organisasi sekaligus nama baik Indonesia. Karena itu, setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk mempelajari berbagai kemajuan yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan kepentingan nasional.

Atas undangan International Department of the Central Committee of the Communist Party of China (IDCPC), delegasi Partai Golkar dijadwalkan mengunjungi Guangzhou di Provinsi Guangdong, Changsha dan Shaoshan di Provinsi Hunan, Lanzhou di Provinsi Gansu, hingga Beijing pada 15–23 Juli 2026. IDCPC merupakan lembaga yang menangani hubungan antarpartai politik dari berbagai negara. Jalur diplomasi seperti ini telah lama menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat hubungan internasional sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman pembangunan.

Selama kunjungan, delegasi akan mengikuti seminar politik, mengunjungi pusat industri dan kawasan bisnis, melihat pengembangan komunitas, serta berdialog dengan pimpinan partai dan pejabat pemerintah di sejumlah provinsi. Kesempatan tersebut menjadi ruang belajar mengenai bagaimana kebijakan negara diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi, pembangunan kawasan, penguasaan teknologi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam arahannya, Bahlil mengingatkan ungkapan yang telah lama hidup di tengah masyarakat, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.” Menurutnya, ungkapan tersebut tetap relevan di tengah tantangan global saat ini.

“Belajar hingga ke China itu sudah benar. Mereka punya banyak sumber daya alam dan jago meningkatkan nilai tambahnya. China paling hebat urusan hilirisasi,” ujar Bahlil.

Pesan tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Keberhasilan Tiongkok tidak lahir dalam waktu singkat, melainkan melalui perencanaan jangka panjang, pembangunan infrastruktur, penguasaan teknologi, serta sinergi kuat antara kebijakan pemerintah dan dunia usaha.

Tiongkok membangun kekuatan ekonominya melalui sistem socialist market economy, yakni perpaduan antara mekanisme pasar dengan arah pembangunan yang dikendalikan negara. Model tersebut berhasil melahirkan jaringan industri yang lengkap, memperkuat rantai pasok nasional, sekaligus menjadikan Tiongkok sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar di dunia.

Pelajaran inilah yang menjadi perhatian utama bagi Indonesia. Negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun kekayaan tersebut tidak akan memberikan nilai tambah optimal apabila hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Hilirisasi harus mampu melahirkan industri pengolahan, mendorong transfer teknologi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil memahami pentingnya hilirisasi sebagai strategi pembangunan nasional. Karena itu, ia mendorong kader Golkar agar tidak berhenti pada slogan politik, tetapi memahami secara utuh bagaimana kebijakan ekonomi dapat diwujudkan menjadi program yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Wihaji juga mengingatkan bahwa kader Partai Golkar harus terus meningkatkan kapasitas diri. Loyalitas kepada partai memang penting, tetapi loyalitas harus dibarengi dengan kemampuan berpikir, menghasilkan gagasan, dan menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa.

Kunjungan ini juga menjadi bagian dari dukungan Partai Golkar terhadap politik luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang berlandaskan prinsip bebas dan aktif. Diplomasi Indonesia tidak hanya dijalankan melalui hubungan antarpemerintah, tetapi juga diperkuat melalui komunikasi antarpartai politik sebagai jembatan membangun kepercayaan dan kerja sama yang saling menguntungkan.

Karena itu, Bahlil mengingatkan seluruh delegasi agar menjaga nama baik Indonesia dan Partai Golkar selama berada di Tiongkok.

“Kalian jaga nama baik Indonesia dan Partai Golkar. Lakukan yang terbaik untuk mendukung seluruh program Presiden Prabowo, khususnya dalam diplomasi luar negeri,” pesannya.

Arahan tersebut menjadi pegangan selama perjalanan. Setiap pengalaman yang diperoleh harus dicatat, dipelajari, kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat mendukung pembangunan nasional. Yang dibawa pulang bukan sekadar dokumentasi perjalanan, melainkan gagasan, jejaring, dan inspirasi untuk memperkuat daya saing Indonesia.

Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh teknologi, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan membangun industri bernilai tambah, kader politik dituntut untuk terus belajar. Diplomasi tidak lagi sekadar membangun hubungan, tetapi juga menjadi sarana menyerap pengetahuan dan mempercepat kemajuan bangsa.

Delegasi Partai Golkar berangkat ke Tiongkok dengan semangat persahabatan, pembelajaran, dan pengabdian. Kami datang untuk belajar dari keberhasilan bangsa lain tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kami berangkat membawa amanah organisasi dan negara, dan kami harus kembali dengan membawa manfaat bagi rakyat serta masa depan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *