KENDARI, LINKSULTRA.COM – Bagi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, jabatan bukanlah sekadar posisi kekuasaan. Bagi dirinya, kepemimpinan adalah bentuk pengabdian yang lahir dari pengalaman hidup, nilai keluarga, serta kedekatan dengan rakyat sejak usia dini.
Kisah itu bermula pada tahun 1965 ketika ASR—sapaan akrabnya—masih berusia dua tahun. Ia mengikuti sang ayah, Andi Baso Syam Daud, seorang perwira TNI berpangkat Letnan Satu yang saat itu ditugaskan di wilayah Sulawesi Tenggara. Tak lama kemudian, ayahnya dipercaya menjadi camat di Pulau Wawonii oleh Gubernur Sulawesi Tenggara saat itu, Eddy Sabara.
Selama kurang lebih tiga setengah tahun, keluarga tersebut tinggal di Pulau Wawonii. Di pulau itulah ASR kecil menyaksikan langsung kehidupan masyarakat yang penuh kesederhanaan namun sarat ketulusan.
Setiap kali ayahnya hendak menyeberang menuju Kendari, warga setempat dengan sukarela menyediakan perahu layar. Tanpa mesin, perjalanan hanya mengandalkan tiupan angin. Jika angin tidak bersahabat, perjalanan bisa berlangsung berhari-hari di laut.
Namun, warga tidak pernah meminta imbalan. Bahkan, ketika rombongan tiba di tujuan, mereka justru menjamu keluarga camat dengan makanan seadanya.
Pengalaman masa kecil itu membekas kuat dalam ingatan ASR. Ia melihat bagaimana masyarakat memberi dengan tulus meski hidup dalam keterbatasan. Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk pandangannya tentang pengabdian dan kepemimpinan.
Mengikuti jejak ayahnya di dunia militer, ASR kemudian menempuh pendidikan di Akademi Militer dan lulus pada tahun 1987. Karier militernya berkembang pesat hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Panglima di Kodam XIV Hasanuddin.
Di kalangan prajurit, ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi kedisiplinan sekaligus memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Prinsip hidupnya sederhana: kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan berbagi kepada sesama.
Nilai tersebut kini ia terapkan dalam kepemimpinannya sebagai gubernur. Di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas dan berbagai tantangan pembangunan, ASR memilih memberikan contoh langsung kepada jajarannya tentang pentingnya integritas dalam mengelola keuangan negara.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan harus dimulai dari keteladanan. Filosofi yang sering ia sampaikan adalah bahwa kerusakan dalam organisasi sering kali berawal dari pemimpinnya sendiri.
Karena itu, ia berupaya memastikan tata kelola pemerintahan berjalan dengan prinsip transparansi, disiplin, dan tanggung jawab.
Selain membangun budaya integritas dalam birokrasi, ASR juga mulai membenahi berbagai potensi daerah yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan penataan kembali aset-aset milik pemerintah provinsi yang tersebar di berbagai wilayah.
Aset-aset tersebut dipetakan dan ditertibkan secara bertahap berdasarkan skala prioritas, dengan tujuan agar dapat kembali dimanfaatkan sebagai modal pembangunan daerah.
Di sisi lain, ASR juga menaruh perhatian besar pada masa depan pembangunan Sulawesi Tenggara. Ia menyadari bahwa sumber daya alam, termasuk sektor pertambangan yang selama ini menjadi penggerak utama ekonomi daerah, tidak akan selamanya tersedia.
Karena itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi fokus utama yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
Untuk mewujudkan visi pembangunan daerah, pemerintah provinsi menetapkan empat prioritas utama, yaitu penguatan sektor pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur untuk memperkuat konektivitas wilayah, serta pengembangan ketahanan pangan berbasis agromaritim.
Keempat sektor ini diyakini menjadi fondasi penting bagi pembangunan jangka panjang Sulawesi Tenggara.
Hari ini, tepat pada 11 Maret, ASR memperingati hari kelahirannya. Momentum ini menjadi pengingat perjalanan panjang pengabdian yang telah ia lalui—dari masa kecil di Pulau Wawonii, karier militer yang panjang, hingga kini memimpin Sulawesi Tenggara.
Semangat pengabdian yang lahir dari pengalaman masa kecil dan nilai-nilai keluarga terus menjadi pijakan dalam menjalankan amanah sebagai kepala daerah.
Dengan komitmen pada pemerintahan yang bersih serta pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat, ASR berharap dapat membalas ketulusan masyarakat yang pernah ia rasakan sejak kecil—dengan kerja nyata bagi kemajuan Sulawesi Tenggara.
Redaksi










































