KOLAKA, LINKSULTRA.COM – Kabupaten Kolaka menjadi titik temu strategis bagi para pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 2026.
Momentum ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang penting untuk menyerap, merumuskan, dan menyelaraskan aspirasi masyarakat ke dalam kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran dan berdampak nyata.
Rangkaian kegiatan diawali dengan gala dinner yang digelar Pemerintah Kabupaten Kolaka pada Senin malam, 4 Mei 2026. Acara tersebut menjadi simbol penyambutan sekaligus penguatan sinergi antar pemerintah daerah sebelum memasuki forum inti Musrenbang.
Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, bersama para bupati dan wali kota se-Sultra, serta jajaran pemangku kepentingan lainnya.

Bupati Kolaka, Amri Jamaluddin, dalam sambutannya menegaskan bahwa Musrenbang merupakan forum strategis yang tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata.
Ia menekankan pentingnya menjadikan Musrenbang sebagai wadah konsolidasi gagasan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan riil masyarakat.
“Musrenbang adalah momentum untuk menyatukan arah pembangunan Sulawesi Tenggara agar lebih terukur dan tepat sasaran,” ujarnya.
Sebagai tuan rumah, Kabupaten Kolaka juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan potensi unggulan daerah. Sektor pertambangan, khususnya komoditas nikel, masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah yang terus berkembang melalui hilirisasi industri.
Aktivitas ini membuka peluang investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Namun, pembangunan Kolaka tidak hanya bertumpu pada sektor tambang. Sektor perikanan dan pertanian tetap menjadi penopang utama ekonomi masyarakat, sementara sektor pariwisata terus dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi, kondisi daerah menunjukkan tren yang cukup stabil. Tingkat inflasi di Kolaka mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh angka sekitar 6 persen.
Penurunan ini mencerminkan upaya pengendalian harga yang berjalan efektif, di tengah daya beli masyarakat yang tetap terjaga.
Selain itu, penguatan infrastruktur energi juga menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan daerah. Kolaka kini didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 25 megawatt yang berperan dalam memenuhi kebutuhan listrik industri dan masyarakat.
Infrastruktur ini turut mendukung operasional industri besar seperti PT Vale Indonesia Tbk serta mempercepat pelayanan listrik bagi ribuan pelanggan.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, menegaskan bahwa arah pembangunan ke depan akan mengedepankan pendekatan partisipatif atau “bottom-up”.
Dalam skema ini, perencanaan pembangunan tidak lagi didominasi oleh kebijakan dari atas, melainkan lebih banyak bersumber dari aspirasi masyarakat.

Ia menargetkan sekitar 70 persen program pembangunan berasal dari usulan masyarakat, sementara sisanya merupakan kebijakan strategis pemerintah.
Pendekatan ini diyakini mampu menghasilkan kebijakan yang lebih relevan, efektif, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Melalui Musrenbang, kita ingin memastikan bahwa suara rakyat benar-benar menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan,” tegasnya.
Gubernur juga menyoroti peran media sosial sebagai sarana penting dalam menyerap aspirasi publik.
Di era digital, masyarakat memiliki ruang yang luas untuk menyampaikan kritik dan masukan secara langsung kepada pemerintah. Hal ini dinilai sebagai peluang untuk memperkaya data dan perspektif dalam proses perencanaan pembangunan.
Selain itu, keterlibatan sektor swasta juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan daerah.
Gubernur mendorong para pelaku usaha, khususnya di sektor hilirisasi nikel, untuk tidak hanya berkontribusi secara ekonomi, tetapi juga berperan aktif dalam pembangunan sosial dan lingkungan.
“Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha diharapkan mampu menciptakan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga diyakini dapat meminimalisir potensi konflik sosial serta memperkuat fondasi ekonomi daerah,” jelas Gubernur Andi Sumangerukka.
Musrenbang Sultra 2026 di Kolaka menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi lintas wilayah dan lintas sektor.
Forum ini diharapkan mampu melahirkan kebijakan dan program konkret yang tidak hanya menjawab tantangan pembangunan saat ini, tetapi juga membuka peluang baru bagi kemajuan Sulawesi Tenggara di masa depan.
Dengan semangat partisipatif dan kolaboratif, Musrenbang bukan sekadar forum perencanaan, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam memastikan pembangunan daerah berjalan lebih adil, merata, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.









































