Oleh: Adi Yusuf Tamburaka
Pemerhati Budaya Tolaki
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Dalam sejarah kebudayaan lokal di Sulawesi Tenggara, nama keluarga besar Tondrang–Tamburaka telah menorehkan jejak panjang dan dalam, khususnya dalam pelestarian dan penciptaan seni budaya suku bangsa Tolaki. Sejak tahun 1984, keluarga ini telah berkontribusi secara konsisten dan visioner dalam membumikan nilai-nilai budaya Tolaki melalui musik, sastra, dan pendidikan.
Awal mula warisan ini dimulai dari pendirian Grup Band Totongano Wonua di Kota Kendari oleh Almarhum H. Moch. Aries Tondrang bersama rekan-rekannya: Almarhum H. Andrey Jufri, H. M. Sanib, Hartawan Konggoasa, Thamrin, serta Almarhumah Mintarsih (Menny) sebagai vokalis utama. Grup musik ini menjadi pionir dalam menyuarakan lagu-lagu daerah Tolaki dalam balutan musik keroncong, yang tampil secara reguler di RRI Kendari setiap malam minggu pada era 1980-an hingga 1990-an. Masyarakat Kendari, yang saat itu mayoritas bersuku Tolaki, begitu akrab dengan irama Totongano Wonua.
Ketika penyanyi utama Mintarsih wafat, tongkat estafet diteruskan oleh putri dari Aries Tondrang, Hj. Ummy Tondrang, yang membawakan lagu-lagu karya ayah dan pamannya seperti Mokonunu, Wule Sanggula, dan lainnya. Lagu-lagu tersebut bahkan sempat direkam dalam bentuk kaset, media populer di masa itu.
Warisan ini terus mengalir hingga generasi berikutnya. Syaiful Tamburaka, keponakan Aries Tondrang, melakukan aransemen ulang lagu-lagu lama dan merilisnya dalam format VCD tahun 2003. Kemudian, di tahun 2021, lagu Siwombatohu ciptaan H Moch. Aries Tondrang kembali dihidupkan dalam versi baru oleh penulis sendiri, Adi Yusuf Tamburaka.
Tidak hanya itu, adik bungsu Aries Tondrang, Hj. Siti Suhuria Tondrang, turut menciptakan syair sakral Sara Meparamesi, yang digunakan dalam berbagai acara adat Tolaki sebagai pembuka penuh penghormatan. Syair ini telah dikonversi dalam versi modern berjudul “Paramesi versi Adi Yusuf Tamburaka”, tanpa kehilangan ruh tradisinya.
Di bidang pelestarian bahasa, pada tahun 1996, Drs H Abdul Aziz Tondrang juga menginisiasi penulisan Kamus Bahasa Tolaki dengan lebih dari 7.000 kosakata. Karya monumental ini bertujuan menjaga keberlangsungan bahasa Tolaki lintas generasi. Tak hanya itu, ia juga menulis buku tata acara adat Mombesara, sebuah referensi penting bagi pelestari budaya Tolaki.
Warisan Intelektual dan Budaya
Keluarga Tondrang–Tamburaka bukan hanya pencipta seni, tetapi juga penjaga nilai-nilai intelektual. Semua anggota keluarga besar ini memiliki latar belakang pendidikan dan pengabdian sebagai guru dan pegawai negeri yang turut menyemai nilai budaya melalui dunia pendidikan formal.
Beberapa tokoh di antaranya:
- H. Moch Aries Tondrang (almarhum) – PNS Dinas Sosial
- Hj. Ira Syair Mahani Tondrang (almarhumah) – Guru Bahasa Inggris, seni dan tari SMP
- Hj. Siti Syahria Tondrang (almarhumah) – Guru SD
- Drs. H. Abdul Aziz Tondrang, M.BA – Pensiunan guru Bahasa Inggris
- Hj. Siti Suhuria Tondrang – Pensiunan guru SD sekaligus penulis kamus Tolaki
Semua karya dan kontribusi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari memori kolektif masyarakat adat Tolaki. Mereka bukan hanya mewariskan kesenian dan bahasa, tetapi juga menanamkan kesadaran identitas kultural di tengah arus modernisasi yang kerap melupakan akar budaya lokal.
Refleksi dan Harapan
Warisan budaya yang ditinggalkan oleh keluarga besar Tondrang–Tamburaka bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan api yang terus menyala untuk membakar semangat generasi muda Tolaki dalam mencintai dan merawat budayanya sendiri.
Di tengah krisis identitas yang melanda banyak suku bangsa, kisah keluarga ini menjadi contoh bahwa cinta pada budaya dapat diwujudkan melalui karya nyata, lintas generasi, dan lintas media. Mulai dari musik keroncong hingga digitalisasi lagu-lagu daerah, dari syair adat hingga kamus bahasa, semuanya menunjukkan bahwa kebudayaan Tolaki bukan hanya untuk dikenang — tetapi juga untuk terus dihidupkan.
Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah daerah memberikan dukungan yang lebih konkret bagi pelestarian budaya lokal, dengan membangun ekosistem seni yang mengakar pada nilai-nilai kearifan lokal. Keluarga seperti Tondrang–Tamburaka telah menunjukkan bahwa budaya bisa bertahan, bahkan berkembang, jika dirawat dengan cinta, pengetahuan, dan keberanian berkarya.
Kendari, 7 Juli 2025
Penulis:
Adi Yusuf Tamburaka
(Anak dari Almarhumah Hj. Ira Syair Mahani Tondrang dan H. Sulaiman Tamburaka).










































