Rektor IAIN Kendari Tak Temui Massa, Aliansi Mahasiswa Perubahan Kembali Gelar Aksi

KENDARI, LINKSULTRA.COM – Gelombang protes mahasiswa kembali menggema di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Aliansi Mahasiswa Perubahan (AMP) kembali menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk kekecewaan terhadap birokrasi kampus yang dinilai terus mengabaikan aspirasi mahasiswa.

Dalam aksi tersebut, AMP membawa empat tuntutan yang mereka sebut sebagai tuntutan amarah. Tuntutan itu bukan muncul secara spontan, melainkan merupakan akumulasi dari kekecewaan panjang akibat sikap pembiaran dan minimnya respons konkret dari pihak rektorat. Hingga kini, AMP menilai belum ada satu pun tuntutan yang benar-benar ditindaklanjuti.

Jenderal Lapangan AMP, Hardianto, menegaskan bahwa sikap diam birokrasi kampus telah mencederai nilai-nilai demokrasi di lingkungan akademik. Menurutnya, kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya kebebasan berpikir justru menunjukkan sikap tertutup terhadap kritik mahasiswa.

“Setiap aksi selalu berujung pada janji tanpa kepastian dan dialog tanpa hasil. Ini bukan lagi kelalaian, melainkan pembiaran yang sistematis terhadap aspirasi mahasiswa,” ujar Hardianto saat ditemui di sela-sela aksi.

Aksi kembali digelar pada Senin, 12 Januari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Rektor IAIN Kendari sempat mengajak massa aksi untuk melakukan hearing di dalam gedung rektorat. Namun tawaran itu ditolak oleh massa aksi karena dinilai tidak transparan dan berpotensi kembali mengubur tuntutan mahasiswa.

Massa aksi meminta hearing dilakukan secara terbuka di depan gedung rektorat dan disaksikan oleh sivitas akademika. Menurut AMP, forum terbuka merupakan bentuk komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas birokrasi kampus.

Penggerak Aliansi Mahasiswa Perubahan IAIN Kendari, Ahmad Fajar, menyampaikan bahwa penolakan hearing tertutup bukan tanpa alasan. Ia menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa ruang dialog tertutup tidak pernah melahirkan kesepakatan yang jelas dan berpihak pada mahasiswa.

“Kami tidak menolak dialog. Kami hanya menolak dialog yang tidak transparan. Hearing terbuka adalah bentuk perlawanan terhadap praktik gelap birokrasi kampus yang selama ini menutup ruang partisipasi mahasiswa,” kata Ahmad Fajar.

Namun hingga aksi berlangsung, pihak rektorat IAIN Kendari tidak menemui massa aksi dan justru meninggalkan gedung rektorat tanpa memberikan keterangan resmi. Sikap tersebut dinilai AMP sebagai bentuk krisis kepemimpinan serta kegagalan birokrasi dalam merawat demokrasi kampus.

Hardianto menegaskan bahwa ketidakhadiran rektor tidak akan menghentikan perjuangan mahasiswa. AMP memastikan akan terus mengonsolidasikan kekuatan hingga seluruh tuntutan mereka mendapat respons yang jelas dan bertanggung jawab.

“Selama tuntutan diabaikan dan keadilan ditinggalkan, gelombang protes mahasiswa akan terus menggema,” tegasnya.

 

Laporan : Rul R.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *