KENDARI, LINKSULTRA.COM – Aliansi Mahasiswa Perubahan menyuarakan pesan darurat terkait kondisi demokrasi kampus di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Pernyataan tersebut muncul menyusul sejumlah persoalan yang dinilai mencederai prinsip demokrasi, tata kelola lembaga kemahasiswaan, serta marwah pendidikan tinggi.
Tokoh penggerak Aliansi Mahasiswa Perubahan, Ahmad Fajar, mengungkapkan bahwa polemik bermula dari kegiatan DEMA Beraksi yang dinilai tidak transparan dan kerap mengalami penundaan tanpa kejelasan pertanggungjawaban kepada peserta maupun masyarakat.
“Pada Jumat, 19 Desember 2025, Sekretariat DEMA IAIN Kendari didatangi masyarakat untuk meminta kejelasan. Hal ini menunjukkan lemahnya tata kelola kegiatan kemahasiswaan yang berdampak langsung pada kepercayaan publik,” ujar Ahmad Fajar.
Ia menjelaskan, situasi tersebut bahkan berujung pada dibawanya Ketua DEMA dan Ketua Panitia ke Polsek Baruga guna dimintai keterangan. Menurutnya, peristiwa itu telah mencoreng citra kampus sebagai institusi akademik yang seharusnya menjunjung tinggi nilai profesionalisme dan akuntabilitas.
Selain itu, Ahmad Fajar juga menyoroti pelaksanaan Pemilihan Mahasiswa (Pemilma) di lingkungan IAIN Kendari. Ia menilai Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) tidak menjalankan tahapan pemilihan sesuai prinsip demokrasi.
“Kami menemukan banyak kejanggalan, mulai dari tidak sinkronnya data pemilih, minimnya sosialisasi, tidak dilaksanakannya pleno di tingkat TPS, hingga tidak adanya transparansi penghitungan suara. Ini bertentangan dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil,” tegasnya.
Akibat berbagai persoalan tersebut, partisipasi mahasiswa dalam Pemilma disebut menurun dan memicu konflik internal antarlembaga kemahasiswaan. Bahkan, gesekan antarorganisasi mahasiswa dilaporkan meluas hingga melibatkan alumni dan pihak luar kampus, serta diperparah oleh penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di media sosial.
Dalam pernyataannya, Aliansi Mahasiswa Perubahan mengangkat tiga isu utama gerakan, yakni persoalan DEMA Beraksi, marwah Pemilma, serta konflik dan masalah internal organisasi mahasiswa. Ahmad Fajar menegaskan bahwa ketiga isu tersebut saling berkaitan dan mencerminkan lemahnya sistem demokrasi kampus.
“Kampus adalah ruang pembentukan karakter dan nalar kritis. Jika nilai kejujuran dan demokrasi tidak ditegakkan, maka tujuan pendidikan itu sendiri akan kehilangan maknanya,” pungkasnya.
Aliansi Mahasiswa Perubahan mendesak pimpinan IAIN Kendari untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan membuka ruang dialog yang transparan guna memulihkan kepercayaan mahasiswa dan masyarakat.
Laporan : Rul R.











































