Penulis: Jubirman, S.Pd, Gr, M.Pd (Guru ASN di Kabupaten Konawe Kepulauan)
KONKEP, LINKSULTRA.COM – Era digitalisasi bukan sekadar istilah hype di kampus atau forum startup. Ia sudah menjadi denyut nadi kehidupan modern. Mulai dari cara kita berbelanja, bekerja, belajar, sampai berinteraksi secara sosial. We Are Social merilis laporan terbarunya tahun 2025 bahwa sebanyak 5,56 miliar orang di seluruh dunia kini menggunakan internet, mewakili lebih dari dua-per-tiga populasi global. Ini bukan tren sementara, melainkan transformasi struktural dunia yang terus berkembang.
Digitalisasi telah membentuk ulang ekonomi dunia. Layanan dan ekspor digital kini memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian, khususnya di negara maju. Sektor teknologi mampu melampaui banyak industri tradisional dalam hal pertumbuhan dan inovasi. Namun, ceritanya belum merata: negara-negara berkembang masih tertinggal jauh, dengan kapasitas digital yang belum memadai dan investasi yang minim.
Dunia pendidikan juga saat ini sedang mengalami revolusi tak terlihat, dengan masuknya digitalisasi secara masif. Kalau dulu ruang kelas hanya terdiri dari papan tulis dan buku cetak, kini kita melihat Learning Management System (LMS), video pembelajaran, hingga AI ikut ambil peran dalam proses belajar-mengajar.
Digitalisasi pendidikan membuka akses yang lebih luas dan fleksibel. Siswa tak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Krena materi dari seluruh dunia dapat diakses dengan satu klik. Platform seperti LMS membuat guru dan siswa bisa berinteraksi secara real-time, bahkan di luar jam kelas tradisional, dan ini jelas melampaui metode pendidikan konvensional selama ini.
Data global juga menunjukkan digital learning tidak bisa diabaikan begitu saja. Dalam era post-pandemic, teknologi digital telah menjadi pilar penting dalam pendidikan tinggi dan pembelajaran sepanjang hayat, terutama melalui AI dan pembelajaran berbasis data yang mendukung pengalaman belajar yang lebih personal dan adaptif.
Titik Balik Pendidikan Indonesia
Pendidikan di Indonesia sedang menghadapi titik balik yang sama dramatisnya seperti transisi dari kelas kapur ke papan tulis digital. Ini bukan sekadar tren TikTok guru atau gimmick, namun ini adalah real shift yang bisa menentukan masa depan generasi bangsa.
Tren digitalisasi pendidikan di Indonesia dipercepat secara masif di era Nadiem Makarim melalui kebijakan Merdeka Belajar, terutama didorong oleh kebutuhan mendesak selama pandemi COVID-19. Fokusnya meliputi penggunaan platform digital (Rumah Belajar, Akun Belajar.id), bantuan kuota internet, serta transformasi kurikulum dan asesmen nasional berbasis teknologi. Bahkan Nadiem mengklaim bahwa Indonesia telah menjadi perintis dalam tranformasi sistim pendidikan, termasuk teknologi digital.
Sejak tahun 2024, sebanyak 1.382.512 perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah diberikan Pemerintah kepada 79.259 sekolah untuk mendukung program digitalisasi sekolah dasar dan menengah. Termasuk di dalamnya, empat platform digital, yakni platform Merdeka Mengajar (PMM), platform Kampus Merdeka, platform Sumber Daya Sekolah, serta platform Profil Rapor Pendidikan dan Manajemen Data serta Infrastruktur.
Percepatan Digitalisasi Pendidikan
Pemerintah Indonesia terus melakukan percepatan transformasi digital di sektor pendidikan. pada November 2025 lalu, Prabowo Subianto resmi melaunching program digitalisasi pembelajaran untuk Indonesia Cerdas. Program ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat transformasi digital pendidikan nasional dan menghadirkan layanan pembelajaran yang lebih interaktif, menyenangkan, dan merata di seluruh Indonesia.
Bukti keseriusan program digitalisasi di era Prabowo Subianto ini ditandai dengan peluncuran Interactive Flat Panel (IFP) atau smartboard untuk sekolah. Pemerintah menyiapkan 288.865 papan tulis pintar tersebut untuk disebar ke semua wilayah Indonesia, baik SD, SMP, maupun SMA. Angka ini dinilai masih kurang, Pemerintah bahkan menyiapkan lagi 1 juta papan tulis interaktif ini untuk tahun 2026.
Pemerintah Daerah menyambut program ini dengan mengadakan berbagai pelatihan pemanfaaran Smartboard terhadap sejumlah guru. Smartboard dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan melalui visualisasi dinamis, interaktivitas sentuh, dan integrasi digital yang memudahkan guru serta meningkatkan partisipasi aktif siswa. Teknologi ini membuat materi lebih menarik, memfasilitasi kolaborasi waktu nyata, serta meningkatkan efisiensi pengajaran dengan akses multimedia instan. Berbagai fitur SmartBoard dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan menyenangkan.
Agar Digitalisasi Bukan Sekadar Ilusi
Namun percepatan digitalisasi pendidikan di Indonesia harus disambut dibarengi dengankesiapan infrastruktur yang merata. Infrastruktur digital di Indonesia masih jauh dari ideal. Banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, belum punya akses internet yang memadai atau bahkan tetap offline. Studi menunjukkan bahwa masih terdapat puluhan ribu sekolah yang belum terhubung dengan internet yang layak, menciptakan jurang digital yang nyata antara kota besar dan pelosok.
Saat ini terdapat 27.650 satuan pendidikan seluruh jenjang PAUD Pendidikan Dasar dan Menengah terdata belum memiliki akses internet(Kompas.com, 2025). Data ini selaras dengan data yang disampaikan Menteri Komdigi Meutya Hafid bahwa masih ada 2.333 desa di Indonesia yang belum terkoneksi internet pada tahun 2025. Hal yang senada juga disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa saat ini masih terdapat sekitar 5.600 desa yang belum menikmati akses listrik. Akibatnya puluhan ribu sekolah di Indonesia, terutama di daerah 3T, masih belum terakses internet.
Tantangan akses ini bukan sekadar angka statistik. Karena ia berdampak langsung terhadap pengalaman belajar siswa. Tanpa koneksi stabil, kelas online sering terputus, konten edukatif sulit diunduh, dan proses belajar menjadi frustasi. Ini bukan sekadar soal gadget, tapi ketidaksiapan infrastruktur mendasar.
Belum lagi, ketika kita kebanyakan membicarakan digitalisasi, kita cenderung fokus pada teknologi, bukan pada digital literacy. Siswa dan guru yang tidak dibekali kemampuan menggunakan alat digital secara efektif akan terjebak pada fitur-fitur permukaan tanpa memahami substansi teknologi tersebut.
Dan jangan lupa, digitalisasi pendidikan bukan cuma soal internet dan perangkat. Dia harus dipadukan dengan kurikulum yang relevan dan adaptif, yang mengajarkan siswa berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengolah informasi digital secara bijak, sebuah skill yang jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan klik-klik layar.
Di balik layar, sumber daya manusia terutama guru menjadi ujung tombak perubahan dan transformasi digital ini. Tanpa pelatihan intensif dan dukungan berkelanjutan, tenaga pendidik akan kesulitan mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik pembelajaran yang bermakna. Banyak guru masih bergantung pada metode kuno karena keterbatasan pengetahuan digital.
Agar Digitalisasi tak sekadar ilusi dan benar-benar menjadi Solusi, maka Pemerintah perlu menuntaskan program percepatan infrastruktur baik ketersediaan listrik maupun akses internet. Selain itu, Pemerintah perlu menghadirkan berbagai macam pelatihan intensif agar guru-guru memiliki kecakapan dan literasi digital. Sehingga pembelajaran di kelas dapat dilakukan secara interaktif dengan berbagai inovasi digital, untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, bermakna dan menyenangkan.









































