KENDARI, LINKSULTRA.COM – Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Bina Marga Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menargetkan peningkatan kualitas jaringan irigasi di wilayah kewenangannya pada 2025 sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan.
Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Pahri Yamsul, menjelaskan bahwa bidang irigasi memiliki peran utama dalam mengelola dan mengembangkan sistem irigasi primer dan sekunder di daerah irigasi yang menjadi kewenangan provinsi.
Tugas tersebut mencakup pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
“Wilayah kewenangan provinsi meliputi Kabupaten Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, Muna Barat, dan Kota Baubau. Saat ini kami mengelola 12 daerah irigasi dengan luas total lebih dari 12 ribu hektare, panjang saluran mencapai 145 kilometer, dan 838 bangunan irigasi,” kata Pahri.
Berdasarkan data baseline 2024, kondisi jaringan irigasi yang tergolong baik baru mencapai 55,99 persen, sementara 29,03 persen rusak sedang dan 14,98 persen rusak berat.
“Hampir 50 persen jaringan masih memerlukan penanganan serius. Target kami, pada 2030 kondisi baik bisa mendekati 65 persen,” tambahnya.
Untuk 2025, program prioritas difokuskan pada rehabilitasi infrastruktur irigasi dan optimalisasi operasi serta pemeliharaan jaringan.
“Kegiatan ini kami lakukan dengan skala prioritas mengingat kondisi keuangan daerah yang sedang efisien,” jelas Pahri.
Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Syukriyanto, merinci dua lokasi utama kegiatan tahun ini, yakni Daerah Irigasi (DI) Asolu di Kabupaten Konawe dan DI Tamboli di Kabupaten Kolaka.
“Di DI Asolu, pekerjaan utama adalah perbaikan jalan inspeksi sepanjang lebih dari 1 kilometer yang kondisinya tidak memadai, bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki akses jalan. Rehabilitasi ini penting untuk memudahkan pemantauan jaringan sekaligus dimanfaatkan petani sebagai akses ke sawah dan jalur angkutan hasil panen,” jelas Syukriyanto.
Sementara itu, di DI Tamboli, fokus pekerjaan adalah pengamanan dan perbaikan bangunan siphon pada Saluran Tamboli Kiri yang rusak akibat gerusan air saat banjir.
Kerusakan ini sempat menghentikan suplai air irigasi untuk sekitar 200 hektare sawah.
“Selain dua lokasi utama tersebut, rehabilitasi skala kecil juga dilakukan di daerah irigasi lain. Kami tetap menjalankan operasi dan pemeliharaan tahunan untuk mempertahankan kondisi jaringan dan mengembalikan fungsi jaringan yang mengalami kerusakan ringan,” pungkasnya.
Laporan: Rul R.
















































