KENDARI, LINKSULTRA.COM– Konsep ekonomi sirkular yang digagas Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai menunjukkan hasil nyata. Pemerintah Provinsi Sultra melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Koperasi dan UKM berhasil melaksanakan panen lele sebanyak 2,5 ton dari budidaya bioflok di Kabupaten Konawe, Minggu (20/1/2026).
Panen tersebut merupakan panen final dalam rangka Program 100 Hari Kerja Gubernur Sultra, yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, budidaya magot, koperasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sultra, Andi Makkawaru, menjelaskan bahwa program ini didukung bantuan 3.000 benih lele, yang berasal dari 2.000 benih bantuan DLH Sultra dan 1.000 benih dari koperasi.
“Program ini berangkat dari kebijakan Pak Gubernur untuk mendorong usaha produktif masyarakat. Magot yang dibudidayakan dari sampah organik digunakan sebagai pakan lele, sehingga biaya produksi bisa ditekan dan hasilnya optimal,” ujar Andi Makkawaru.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2025 DLH Sultra telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp350 juta untuk program budidaya magot yang menyasar 50 rumah tangga miskin, mayoritas ibu rumah tangga. Setelah magot dipanen sekitar 14 hari, hasilnya langsung dimanfaatkan sebagai pakan lele.
“Dari tiga kolam bioflok yang dikelola, hasil panen mencapai 2,5 ton. Ini membuktikan bahwa model ekonomi sirkular yang mengolah sampah menjadi sumber ekonomi sangat efektif,” jelasnya.
Lebih lanjut, Andi menegaskan bahwa program ini sejalan dengan arahan nasional terkait penanganan sampah serta integrasi bantuan pemerintah pusat dan daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sultra, LM Shalihin, menyampaikan bahwa kegiatan panen lele tersebut merupakan bagian dari program prioritas 100 hari kerja Gubernur Sultra dan melibatkan koperasi sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Koperasi tidak hanya mendampingi, tetapi juga mengelola pemasaran hasil panen. Lele dijual melalui Koperasi MIPO-KUASO, lalu hasilnya diputar kembali menjadi Sisa Hasil Usaha (SHU) bagi anggota dan masyarakat binaan,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Koperasi juga menyalurkan bantuan modal usaha sebesar Rp2 juta per kepala kepada 50 ibu rumah tangga melalui program Mantu, yang terintegrasi dengan budidaya magot dan lele.
Pemprov Sultra menargetkan model ekonomi sirkular ini dapat diperluas ke daerah lain sebagai upaya penguatan ekonomi kerakyatan berbasis lingkungan, koperasi, dan pengelolaan sampah berkelanjutan.
Laporan : Rul R
















































