KONKEP, LINKSULTRA.COM – Tari Kamori Mori, tarian tradisional khas Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan, sukses mencuri perhatian pengunjung pada acara launching Festival Pulau Wawonii 2026 yang digelar di Lapangan TPI Langara, Kamis (14/5/2026).
Tarian yang sarat nilai filosofi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menyampaikan kisah cinta tragis dua sejoli serta pesan tentang kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
Nama Kamori Mori diambil dari alat musik tiup tradisional masyarakat Wawonii.
Melalui tarian ini, masyarakat mengekspresikan nilai-nilai kelembutan, kesantunan, kesetiaan, kesabaran, kepatuhan, serta sikap hormat, khususnya kepada laki-laki.
Ketua Lembaga Adat Wawonii (LAW), Husain Mahalik, mengatakan Tari Kamori Mori merupakan salah satu warisan budaya yang berhasil digali kembali oleh LAW sebagai upaya pelestarian budaya daerah.
“Tari Kamori Mori merupakan salah satu warisan budaya yang berhasil digali oleh LAW. Melalui Lembaga Adat Wawonii, kami terus berupaya menggali dan melestarikan kekayaan budaya Wawonii agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.

Dalam sinopsis Tari Kamori Mori yang disusun Dermawan Toarima dijelaskan, tarian tersebut terinspirasi dari kisah cinta Durudalewula dan Wulangkinokoti. Keduanya saling mencintai, namun hubungan mereka tidak mendapat restu dari orang tua Wulangkinokoti. Perbedaan pandangan serta kehormatan keluarga menjadi penghalang bagi cinta mereka.
Di tengah tekanan keluarga dan keterbatasan keadaan, Durudalewula dan Wulangkinokoti tetap mempertahankan cinta yang tulus. Namun, harapan untuk hidup bersama semakin sirna. Kesedihan dan penderitaan batin akhirnya membawa keduanya pada keputusan tragis untuk mengakhiri hidup bersama atau mekasusuru di Air Terjun Tumburano.
Tari Kamori Mori juga merefleksikan tatanan kehidupan feodal masyarakat Wawonii pada masa lalu. Stratifikasi sosial yang kaku kala itu membatasi kebebasan individu dan interaksi sosial, sehingga memunculkan bentuk kekerasan humanis terhadap hak-hak masyarakat.
Setiap gerakan dalam Tari Kamori Mori memiliki makna filosofis. Tarian diawali dengan gerakan penghormatan dan diakhiri dengan posisi duduk sebagai simbol kesantunan. Gerakan memutar searah jarum jam melambangkan siklus kehidupan manusia yang dinamis, sedangkan gerakan naik turun menggambarkan pasang surut kehidupan sekaligus pesan tentang pentingnya kesabaran.
Iringan musik dalam tarian ini menggunakan alat musik tradisional Kamori Mori, gendang, dan gong. Para pemusik tidak hanya mengiringi penari, tetapi juga memainkan alat musik tiup Kamori Mori sebagai pengantar irama.
Keunikan Tari Kamori Mori juga terlihat dari aturan bagi para penarinya. Mereka tidak diperkenankan membuka mata terlalu lebar maupun mengangkat kaki terlalu tinggi. Aturan tersebut bertujuan menjaga nilai kesopanan dan kesantunan yang menjadi ruh dari tarian tersebut.
Bagi masyarakat Wawonii, Tari Kamori Mori mengandung pesan agar selalu ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan. Selain dipentaskan dalam acara adat dan hiburan, tarian ini kini juga menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara.
Laporan : Ajad S.










































