Oleh: Dr. Arwin, S.P., M.Si
Kabid Hortikultura Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Setiap 10 November, kita sejenak mengenang para pahlawan yang gugur merebut kemerdekaan Republik Indonesia – sebuah kemerdekaan yang tidak pernah diberikan, melainkan diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan. Namun, di tengah zaman yang serba cepat dan instan, makna kepahlawanan sering terasa menjauh dari kehidupan sehari-hari.
Kini, kepahlawanan tidak selalu diwujudkan melalui perang dan senjata, tetapi juga melalui upaya menjaga keberlangsungan hidup bersama.
Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan fluktuasi harga komoditas, mereka yang menanam, memelihara, dan menjaga ketersediaan pangan sejatinya sedang berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa.
Dalam konteks ini, hortikultura menjadi salah satu sektor nyata di mana nilai-nilai kepahlawanan itu hidup kembali.
Petani hortikultura memang tidak memikul senjata seperti para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan, tetapi setiap hari mereka bertarung dengan cuaca, hama, harga pasar, dan keterbatasan sarana pendukung.
Mereka menanam demi memenuhi kebutuhan dapur sendiri sekaligus menjaga ketersediaan sayuran dan buah-buahan bagi banyak orang. Itulah bentuk perjuangan tanpa sorotan kamera, tanpa upacara, tetapi sarat makna pengorbanan.
Nilai-nilai kepahlawanan seperti keuletan, kerja keras, gotong royong, dan semangat pantang menyerah hidup di kebun-kebun hortikultura. Ketika musim kering melanda, petani belajar beradaptasi. Ketika harga jatuh, mereka tetap menanam dengan harapan harga akan membaik di musim berikutnya.
Ketika produksi terganggu, pemerintah hadir mendampingi melalui inovasi dan kebijakan. Di sinilah semangat kolaboratif itu menemukan bentuknya -bahwa pahlawan tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang, saling mendukung, dan saling menguatkan.
Dalam konteks penguatan ketahanan pangan, Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara terus menegaskan komitmennya untuk menghidupkan sektor hortikultura sebagai penyangga ekonomi. Di bawah arahan Kepala Dinas Dr. Rusdin Jaya, berbagai langkah konkret telah dijalankan. Upaya ini merupakan bentuk intervensi kebijakan sekaligus simbol kehadiran pemerintah di tengah kerja keras petani.
Kebijakan tersebut berpijak pada semangat besar yang menjadi arah pembangunan daerah, yakni visi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara: “Terwujudnya Sulawesi Tenggara Menuju Masyarakat Aman, Sejahtera, dan Religius.”
Visi ini tidak berhenti pada slogan, tetapi hidup dalam tindakan nyata — menumbuhkan kesejahteraan, membangun kemandirian pangan, dan menanamkan nilai keberkahan dalam setiap kerja yang dilakukan bersama.
Dalam makna yang lebih luas, kerja petani hortikultura adalah wujud nyata kepahlawanan modern. Mereka bukan sekadar menanam sayuran dan buah-buahan, tetapi juga menanam harapan agar masyarakat dapat menikmati harga pangan yang terjangkau, agar dapur tetap mengepul, dan agar daerah tidak bergantung pada pasokan luar.
Peringatan Hari Pahlawan mengajarkan kita bahwa perjuangan bisa hadir dalam banyak bentuk. Bukan hanya lewat senjata dan bambu runcing, tetapi juga lewat cangkul dan benih. Dari tangan-tangan petani hortikultura, kita belajar arti juang yang sesungguhnya — bahwa menjadi pahlawan tidak melulu menumpas penjajah, tetapi menumbuhkan harapan dan menyatukan yang terserak.
Segenap keluarga besar petani hortikultura mengucapkan Selamat Hari Pahlawan.
Semoga semangat juang petani hortikultura terus hidup di setiap musim tanam dan panen, menjadi teladan nyata dari tema Hari Pahlawan tahun ini:
“Pahlawan Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.”
Petani hortikultura mungkin tidak berbaris di medan perang, tetapi setiap tetes keringat yang mengucur dan setiap benih yang ditanam adalah wujud keberlanjutan perjuangan dari para pahlawan pendahulu.
















































