Terapi Alam untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Komitmen Dikbud Sultra Hadirkan Layanan Inklusif

KENDARI, LINKSULTRA.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus (PSBK) menggelar terapi alam bagi anak berkebutuhan khusus di Hotel Fortune & Convention Kendari, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dikbud Sultra, Prof. Aris Badara. Ia menyampaikan, program ini merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap anak berkebutuhan khusus, sekaligus hasil inovasi di tengah keterbatasan anggaran.

“Ini adalah bentuk perhatian kita kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Meski dengan anggaran terbatas, kita masih bisa melaksanakan kegiatan seperti ini. Ini juga merupakan hasil inovasi dan kreativitas dari UPTD,” ujar Aris.

Ia menjelaskan, kegiatan ini diikuti sekitar 140 peserta dan diharapkan dapat menjadi agenda rutin. Meski tahun ini terdapat efisiensi anggaran, pihaknya tetap berupaya agar program serupa bisa terus berlanjut sebagai bentuk komitmen layanan inklusif.

“Kita bersyukur kegiatan seperti ini masih bisa dilaksanakan. Ke depan, kita upayakan tetap menjadi agenda rutin sebagai bentuk perhatian berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPTD PSBK Dikbud Sultra, Nurhaerani Haeba, menjelaskan bahwa terapi alam yang diberikan difokuskan pada stimulasi sensori anak, khususnya sensori taktil atau kemampuan perabaan.

“Terapi ini melatih sensori anak, terutama bagaimana mereka merasakan sentuhan, seperti air dan berbagai tekstur. Disebut juga terapi lumba-lumba karena adanya suara menyerupai lumba-lumba untuk merangsang respons anak saat berada di kolam,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua anak dapat mengikuti terapi tersebut. Dari lebih dari 300 klien yang terdaftar, hanya sebagian yang memenuhi kriteria, baik dari sisi kondisi fisik maupun emosional.

“Ada syarat tertentu, misalnya anak tidak dalam kondisi tantrum dan tidak memiliki gangguan medis tertentu seperti epilepsi. Jadi memang diseleksi demi keamanan dan efektivitas terapi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan terapi dilakukan secara bertahap. Untuk tahap pertama digelar satu hari ini, sementara peserta lainnya akan mengikuti sesi lanjutan pada pekan depan.

“Kegiatan ini kita bagi dalam dua tahap agar pelaksanaannya lebih maksimal dan anak-anak bisa mendapatkan penanganan yang optimal,” tambahnya.

Selain terapi bagi anak, pihaknya juga berencana menggelar kegiatan khusus bagi orang tua. Tujuannya untuk memberikan edukasi terkait metode terapi yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.

“Ke depan, akan ada kegiatan khusus bagi orang tua agar mereka bisa melakukan terapi mandiri di rumah. Namun hari ini fokus kita masih pada terapi air atau terapi alam,” tutupnya.

Laporan : Rul R.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *