Kendari, 3 April 2026
Lokasi: Desa Pattalassang, Kabupaten Gowa
Hasil wawancara oleh Asbar Dg Sijja, petani sawah tadah hujan
Ditulis oleh Adi Yusuf Tamburaka, Analis Kebijakan Ahli Madya Provinsi Sulawesi Tenggara
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Di tengah ketidakpastian iklim dan terbatasnya irigasi teknis, sawah tadah hujan sering kali dipandang sebagai lahan “kelas dua” dalam sistem pertanian. Namun, pengalaman empiris petani di lapangan menunjukkan bahwa dengan manajemen yang tepat, lahan seluas 40 are pun mampu menghasilkan hingga 2,5 ton gabah—angka yang tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kemandirian pangan di tingkat desa.
Kunci Utama: Ketepatan, Bukan Sekadar Luasan
Keberhasilan tersebut bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pendekatan teknis yang terukur sejak awal musim tanam. Tahap pertama yang paling menentukan adalah pemilihan bibit unggul. Varietas dengan karakter anakan banyak, malai (belalai) panjang, daun tegak ke atas, dan arah buah ke bawah—seperti yang dikenal petani sebagai tipe Mawar 99—terbukti tahan serangan hama, memiliki produktivitas tinggi, dan usia panen sekitar 80 hari. Karakter morfologi ini penting karena berkorelasi langsung dengan jumlah bulir dan efisiensi penyerapan sinar matahari.
Perawatan Intensif di Fase Vegetatif
Pada masa pertumbuhan, penggunaan pupuk semprot seperti Ultradaf yang dikombinasikan dengan fungisida Antrakol menjadi strategi preventif sekaligus stimulan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemupukan tidak hanya berorientasi pada nutrisi, tetapi juga perlindungan dini terhadap penyakit tanaman.
Sementara itu, penggunaan insektisida secara responsif (“spontan”) menunjukkan fleksibilitas petani dalam menghadapi serangan hama yang tidak bisa diprediksi secara kaku. Ini merupakan bentuk adaptasi berbasis pengalaman yang sering kali lebih efektif dibanding pendekatan teoritis semata.

Fase Generatif: Penentu Akhir Produksi
Memasuki fase pembuahan, intervensi menjadi lebih spesifik. Penggunaan pupuk NPK (tabur maupun semprot), serta tambahan nutrisi seperti Gandasil B, memperkuat pengisian bulir. Pada fase ini, kegagalan kecil dapat berdampak besar terhadap hasil panen, sehingga ketepatan dosis dan waktu aplikasi menjadi sangat krusial.
Pengendalian Hama: Kombinasi Modern dan Tradisional
Menariknya, strategi pengendalian hama tidak hanya mengandalkan bahan kimia seperti insektisida Spontan dan Neorti, tetapi juga memanfaatkan kearifan lokal. Untuk mengatasi walang sangit, petani menggunakan metode tradisional seperti pembakaran sekam (dupa) atau memasang jeruk purut yang ditusuk di area sawah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus modern; justru kombinasi antara teknologi dan tradisi sering kali menghasilkan solusi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Inspirasi untuk Petani Lain
Apa yang dicapai dari lahan 40 are ini memberikan pelajaran penting: bahwa produktivitas bukan semata soal luas lahan, melainkan soal manajemen, ketelitian, dan kemauan untuk belajar.
Jika praktik ini direplikasi secara luas, maka sawah tadah hujan tidak lagi menjadi simbol keterbatasan, melainkan sumber kekuatan ekonomi desa. Pemerintah daerah pun seharusnya menangkap potensi ini dengan memberikan pendampingan, subsidi input yang tepat sasaran, serta pelatihan berbasis praktik terbaik seperti ini.
Penutup: Dari Lahan Kecil, Dampak Besar
Di tengah tantangan krisis pangan global, langkah kecil dari petani lokal seperti ini sesungguhnya merupakan fondasi besar bagi ketahanan pangan nasional. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang: bahwa bahkan dari lahan 40 are, dengan hasil 2,5 ton, terdapat harapan besar yang bisa tumbuh—asal dikelola dengan ilmu dan ketekunan.









































