Oleh: Adi Yusuf Tamburaka, S.Sos., MH
Sekretaris Jenderal Masyarakat Adat Tolaki (MAT-SULTRA)
KENDARI, 18 Juni 2025
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Di tengah arus modernisasi dan derasnya homogenisasi budaya global, Kalosara tetap berdiri tegak sebagai simbol identitas, etika sosial, dan mekanisme penyelesaian konflik masyarakat adat Tolaki. Ia bukan sekadar ornamen tradisi atau hiasan seremonial, melainkan refleksi dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Namun, bagaimana posisinya dalam pandangan Islam? Apakah Kalosara sejalan dengan syariat, atau justru menyimpang?
Filosofi Kalosara dalam Budaya Tolaki
Kalosara adalah simbol adat berbentuk lingkaran dari rotan yang digunakan dalam berbagai prosesi penting, seperti penyelesaian sengketa, pernikahan adat, hingga pelantikan pemimpin adat. Lingkaran melambangkan kesatuan, keadilan, dan kekekalan nilai moral. Ia menjadi pengikat komitmen sosial dan spiritual, serta simbol perdamaian yang harus dijaga oleh semua pihak yang berselisih.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Kalosara mencerminkan prinsip-prinsip luhur:
Kesatuan sosial dan keutuhan masyarakat
Keadilan dan musyawarah mufakat
Sumpah kehormatan dan tanggung jawab moral
Kalosara bukanlah simbol penyembahan, melainkan pedoman kolektif—semacam “konstitusi moral”—yang menjaga harmoni dalam kehidupan komunal masyarakat Tolaki.
Islam dan Budaya: Menyaring, Bukan Menyingkirkan
Islam tidak anti terhadap budaya. Islam adalah agama yang datang untuk menyempurnakan akhlak dan menyaring budaya sesuai dengan nilai-nilai tauhid. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat: 13, bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling meniadakan.
Rasulullah SAW sendiri bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Artinya, jika suatu budaya mengandung nilai-nilai moral yang baik dan tidak bertentangan dengan aqidah Islam, maka bukan hanya boleh dilestarikan, tetapi juga bisa menjadi sarana dakwah dan penguatan karakter umat.
Kalosara dan Nilai-Nilai Islam
Nilai-nilai dalam Kalosara, secara substansial, justru mencerminkan prinsip-prinsip utama Islam:
Musyawarah dan keadilan, sesuai dengan QS. Asy-Syura: 38
Penyelesaian konflik dan perdamaian, sejalan dengan QS. Al-Hujurat: 9
Menepati janji dan menjaga amanah, sebagaimana perintah dalam QS. Al-Ma’idah: 1
Sejarah mencatat, Kalosara pertama kali digunakan sebagai sarana mendamaikan perselisihan. Ia menjadi tanda bahwa sebuah perjanjian telah diikrarkan dan tidak boleh dilanggar. Ini selaras dengan semangat Islam yang mengedepankan keadilan, amanah, dan silaturahmi.
Namun, perlu dicermati, bila dalam praktiknya Kalosara disertai dengan unsur-unsur mistis, mantra, atau keyakinan akan kekuatan gaib yang menjurus pada syirik, maka di situlah garis batas Islam berlaku. QS. Al-An’am: 162–163 dengan tegas menyatakan bahwa seluruh bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT, tanpa perantara atau simbol apa pun.
Islam dan Adat: Bisa Berdampingan
Islam tidak datang untuk menghapus tradisi, tetapi untuk mengarahkan dan memurnikannya. Kalosara tetap bisa dijaga sebagai warisan budaya yang kaya nilai, selama tidak bergeser menjadi objek permohonan gaib. Ia adalah sarana, bukan tujuan ibadah. Ia dapat menjadi alat dakwah kultural—jembatan antara nilai adat dan nilai Islam.
Sinergi antara tokoh agama dan pemangku adat sangat diperlukan agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya, namun tetap berjalan dalam koridor tauhid. Inilah makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—agama yang menghormati kearifan lokal, selama tidak menyimpang dari syariat.
Kalosara dan Islam bukan dua kutub yang berseberangan. Dalam kerangka yang tepat, keduanya bisa bersenyawa untuk membentuk masyarakat Tolaki yang beradab, berkarakter, dan beriman. Di era globalisasi yang menggerus identitas, Kalosara bisa menjadi pagar budaya; dan Islam, sebagai ruh nilai yang menghidupkan setiap langkahnya.
















































