Pelatihan Terapi Kelompok Orang Tua ABK di Kendari Tekankan Perubahan Pola Pikir dan Pengelolaan Emosi

KENDARI, LINKSULTRA.COM – UPTD Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus (PSBK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar pelatihan terapi kelompok bagi orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) pada Senin, 4 Mei 2026. Kegiatan ini menitikberatkan pada perubahan cara pandang orang tua terhadap diri sendiri dan anak, serta penguatan kemampuan mengelola emosi.

Salah satu pemateri, Dr. Eka Damayanti, menjelaskan bahwa sesi hari pertama difokuskan pada perubahan perspektif orang tua. Menurutnya, banyak orang tua yang masih memiliki anggapan keliru bahwa mereka tidak boleh marah, lelah, atau menunjukkan emosi negatif.

“Orang tua itu bukan robot. Mereka manusia yang bisa lelah dan membutuhkan bantuan. Ketika merasa stres, penting untuk menyadari kondisi tersebut dan tidak ragu meminta bantuan profesional seperti psikolog,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap anak. Orang tua diharapkan tidak hanya melihat kekurangan, tetapi juga potensi yang dimiliki anak. Misalnya, anak dengan ADHD tidak semata-mata dilihat dari kesulitan fokus, tetapi juga dari energi besar yang dapat diarahkan ke hal-hal produktif.

Selain itu, Eka memperkenalkan konsep reframing, yakni mengubah cara pandang terhadap kondisi anak. “Jika anak mengalami keterlambatan, jangan dilihat sebagai kekurangan semata, tetapi sebagai pola perkembangan yang berbeda. Dengan perspektif positif, perlakuan orang tua juga akan menjadi lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, pemateri lainnya, Dr. Eva Meizara Puspita Dewi, menyampaikan bahwa fokus materinya adalah pada pengelolaan emosi orang tua. Ia menyebut, selama ini banyak orang tua ABK yang memendam perasaan lelah, terpinggirkan, dan tertekan.

“Kegiatan ini merupakan terapi kelompok yang membantu orang tua mengelola emosi mereka. Kami menggunakan metode photovoice dan elicitation agar peserta dapat mengekspresikan perasaan yang selama ini terpendam,” ungkapnya.

Metode photovoice memungkinkan peserta menyampaikan emosi melalui foto yang mereka pilih, sementara elicitation menggunakan media gambar sebagai alat refleksi. Melalui pendekatan ini, peserta secara tidak sadar dapat mengungkapkan pengalaman emosional yang sulit diceritakan.

“Ketika emosi itu dilepaskan, akan muncul rasa lega. Dari situ, mereka bisa lebih sadar terhadap kondisi diri dan menentukan langkah ke depan dalam mendampingi anak,” tambahnya.

Kepala UPTD PSBK Dikbud Sultra, Nurhaerani Haeba, menyebut pelatihan ini diikuti sekitar 70 peserta dan menjadi wadah berbagi pengalaman antarorang tua.

“Tujuan utama kegiatan ini bukan hanya memberikan pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus, tetapi juga membangun empati dan kebersamaan antarorang tua. Mereka bisa saling menguatkan dan berbagi pengalaman,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan ini akan dilaksanakan dalam dua gelombang. Gelombang pertama digelar pada 4–5 Mei 2026, sementara gelombang kedua dijadwalkan pada 3–4 Juni 2026.

“Kami terus menyesuaikan materi dengan kebutuhan orang tua. Pendekatan ini penting karena orang tualah yang mendampingi anak selama 24 jam,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *