BRIDA Sultra Fokus Riset Strategis Hadapi Efisiensi Anggaran Daerah

Kendari 25 Mei 2025

Oleh Adi Yusuf Tamburaka Analis Kebijakan Ahli Madya / Koordinator POKJA III Ekonomi Pembanguan Brida Prov . Sultra

KENDARI, LINKSULTRA.COM -Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat maupun daerah, Kelompok Kerja (Pokja) III Ekonomi Pembangunan pada Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan fungsi strategis penelitian dan inovasi daerah melalui pendekatan kolaboratif, berbasis data, dan tepat sasaran.

Melalui dokumen “13 Program Kerja Prioritas Pokja III Ekonomi Pembangunan BRIDA Sultra”, Pokja III menempatkan riset dan inovasi sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas pembangunan daerah, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus memastikan kebijakan pemerintah tetap efektif meski dalam keterbatasan fiskal.

Ketua dan tim Pokja III menilai bahwa efisiensi anggaran tidak boleh dimaknai sebagai pengurangan kualitas pembangunan, melainkan momentum untuk memperkuat tata kelola berbasis bukti (evidence-based policy), mempercepat digitalisasi pelayanan publik, dan memprioritaskan program yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Peran Strategis Pokja III

Pokja III BRIDA Sultra memiliki tugas dan fungsi utama dalam bidang ekonomi dan pembangunan, meliputi penelitian, pengembangan, inovasi, serta penyusunan rekomendasi kebijakan strategis daerah. Fokus utama diarahkan pada penguatan sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung ekonomi Sulawesi Tenggara.

Dalam dokumen program prioritas tersebut, terdapat 13 sektor strategis yang menjadi fokus penelitian dan pengembangan, yakni:

1. Koperasi, UMKM, dan ekonomi digital
2. Perindustrian dan perdagangan
3. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
4. Pertanian, perkebunan, dan pangan
5. Kelautan dan perikanan
6. Energi dan sumber daya mineral
7. Lingkungan hidup
8. Kehutanan
9. Pekerjaan umum dan infrastruktur
10. Perhubungan dan konektivitas wilayah
11. Perumahan dan kawasan permukiman
12. Penataan ruang dan pertanahan
13. Komunikasi dan informatika berbasis SPBE dan Satu Data

Menurut Pokja III, seluruh program tersebut dirancang bukan sekadar penelitian akademik, melainkan menghasilkan roadmap pembangunan, policy brief, database potensi daerah, hingga model inovasi yang dapat langsung diterapkan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

Efisiensi Anggaran Harus Dibalas Dengan Inovasi

Dalam menghadapi keterbatasan anggaran, Pokja III BRIDA Sultra mendorong pola kerja kolaboratif antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas masyarakat, hingga pemerintah kabupaten/kota.

Pendekatan ini dianggap penting agar pembiayaan riset tidak hanya bergantung pada APBD, namun juga diperkuat melalui kemitraan strategis dan integrasi program lintas sektor.

Selain itu, efisiensi anggaran diarahkan pada pengurangan belanja yang tidak produktif dan memaksimalkan kegiatan yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Beberapa program prioritas yang dinilai relevan menghadapi situasi efisiensi anggaran antara lain:

Digitalisasi UMKM dan koperasi;
Hilirisasi produk pertanian dan perikanan;
Pengembangan energi terbarukan;
Sistem data pembangunan terintegrasi;
Kajian tata ruang dan konflik pertanahan;
Penguatan ekonomi biru masyarakat pesisir;
Pengembangan SPBE dan layanan publik digital.

Pokja III juga menilai bahwa riset daerah harus mampu menjadi alat mitigasi terhadap potensi pemborosan anggaran, tumpang tindih program, serta kebijakan yang tidak tepat sasaran.

Dorong Kebijakan Berbasis Bukti

Melalui program penelitian strategis, Pokja III BRIDA Sultra berupaya menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat digunakan langsung oleh gubernur, OPD, maupun pemerintah kabupaten/kota dalam penyusunan program pembangunan.

Konsep pembangunan berbasis riset dinilai penting agar setiap kebijakan memiliki dasar akademik, analisis data, serta proyeksi dampak sosial-ekonomi yang jelas.

Dalam sektor pertanian misalnya, BRIDA Sultra akan mendorong riset hilirisasi kakao, mete, lada, dan kelapa untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal. Di sektor kelautan, fokus diarahkan pada pengembangan ekonomi biru, budidaya rumput laut modern, serta pemetaan potensi wilayah perikanan Sultra.

Sementara dalam sektor pertanahan dan tata ruang, Pokja III menyoroti pentingnya penelitian konflik pertanahan dan tanah ulayat guna mendorong pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Penguatan SDM dan Integrasi Data

Selain penelitian, Pokja III BRIDA Sultra juga memprioritaskan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui workshop, bimtek, seminar, FGD, dan pendampingan lapangan.

Penguatan SDM dinilai menjadi kunci utama agar aparatur pemerintah daerah mampu memahami tata kelola pembangunan modern berbasis inovasi dan digitalisasi.

Di sisi lain, integrasi data pembangunan melalui konsep Satu Data dan SPBE menjadi agenda penting untuk menghindari perbedaan data antar OPD yang selama ini menjadi hambatan dalam penyusunan kebijakan daerah.

Pokja III menargetkan terbangunnya sistem data daerah yang terintegrasi, akurat, dan dapat diakses sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan.

Menuju Sultra Maju dan Berdaya Saing

Melalui 13 program prioritas tersebut, Pokja III BRIDA Sultra menegaskan bahwa riset dan inovasi bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan fondasi utama dalam mewujudkan Sulawesi Tenggara yang maju, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.

Efisiensi anggaran justru dipandang sebagai momentum untuk memperkuat kualitas perencanaan, meningkatkan efektivitas program, dan memastikan setiap rupiah anggaran daerah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan dukungan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta masyarakat, Pokja III BRIDA Sultra optimistis transformasi pembangunan berbasis riset dan inovasi dapat menjadi kekuatan baru bagi masa depan Sulawesi Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *