KENDARI, LINKSULTRA.COM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Pariwisata terus memperkuat sinergi antara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) sebagai strategi meningkatkan daya saing daerah.
Upaya ini difokuskan pada pengembangan empat subsektor unggulan dari total 17 subsektor ekonomi kreatif yang ada di Indonesia.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sultra, Syamsinar Syasa, menyebutkan bahwa keempat subsektor unggulan tersebut adalah kuliner, kriya, fashion, dan seni pertunjukan.
“Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, empat yang paling potensial di Sultra saat ini adalah kuliner, kriya, fashion, dan seni pertunjukan. Keempatnya memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pariwisata,” ujarnya di Kendari, belum lama ini.
Menurut Syamsinar, ekonomi kreatif dan pariwisata merupakan dua sektor yang saling menopang. Setiap destinasi wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya, kuliner khas, hingga produk kerajinan lokal.
Ia mencontohkan potensi di Desa Namu, salah satu destinasi wisata di Sultra. Selain memiliki pantai dan air terjun yang eksotis, desa ini juga menampilkan atraksi budaya seperti tarian tradisional dan menyajikan kuliner khas daerah.
“Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya ingin melihat pemandangan, tapi juga menikmati makanan khas dan membawa pulang oleh-oleh hasil karya masyarakat setempat. Inilah bentuk sinergi nyata antara pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Dinas Pariwisata Sultra juga aktif melakukan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang ekonomi kreatif.
Setiap tahun diadakan pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan pelaku ekraf di berbagai subsektor.
“Setiap tahun kami menggelar pendidikan dan pelatihan, terutama bagi pelaku usaha di bidang kuliner, kriya, dan seni pertunjukan. Tujuannya agar mereka bisa berinovasi, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya lokal,” tambahnya.
Selain pelatihan, Dinas Pariwisata juga rutin menggelar event budaya dan festival daerah sebagai wadah ekspresi para pelaku ekonomi kreatif. Beberapa kegiatan yang telah digelar di antaranya Festival Lulungganda (Lulo Ganda) di Kolaka Selatan, Festival Pakandekandea di Baubau, dan Festival Layang-Layang di Muna.
“Event-event ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarana menghidupkan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Budaya lokal ini kemudian kita kemas dalam bentuk atraksi yang menarik bagi wisatawan,” ungkap Syamsinar.

Ia menegaskan bahwa keberadaan sektor ekonomi kreatif menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah pariwisata daerah.
Tanpa dukungan kreativitas dan budaya, pariwisata tidak akan memiliki daya tarik berkelanjutan.
“Berwisata tanpa sentuhan ekonomi kreatif, tanpa seni dan budaya, rasanya hambar. Orang berkunjung ke Bali atau Yogyakarta bukan hanya karena alamnya, tapi karena ada pengalaman budaya, kuliner, dan produk lokal yang bisa dibawa pulang,” katanya.
Melalui penguatan sinergi antara ekonomi kreatif dan pariwisata, Pemerintah Provinsi Sultra berharap dapat menciptakan ekosistem wisata yang berkelanjutan, memberdayakan masyarakat lokal, serta memperkuat identitas budaya daerah di kancah nasional.
Laporan: Rul R.










































