KENDARI, LINKSULTRA.COM – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, menegaskan bahwa penilaian terhadap kinerja 100 hari Gubernur Sultra perlu dilihat secara proporsional dan objektif. Ia menilai, kritik yang menyebut kinerja pemerintahan berjalan lamban tidak tepat sasaran karena masa 100 hari tersebut masih berada dalam transisi kepemimpinan sebelumnya.
“Kalau bicara 100 hari, itu masih masuk periode kepemimpinan lama. Sementara kami di pemerintahan saat ini baru berjalan sekitar satu bulan. Jadi jangan salah kaprah dalam menilai,” ujar Ridwan saat menyampaikan keterangannya di Kendari.
Menurut Ridwan, selama satu bulan menjabat, fokus utama Dinas Pariwisata Sultra adalah membangun fondasi kuat pariwisata daerah melalui penguatan poros dan ekosistem wisata. Salah satu langkah strategis yang telah dirampungkan adalah pembangunan Poros Pariwisata Sulawesi Tenggara dengan Kendari sebagai simpul utama.
“Kita selama ini terlalu bergantung pada satu destinasi besar seperti Wakatobi, tapi akses dan ekosistemnya belum kuat. Karena itu, poros wisata kita bangun dari Kendari sebagai hub, karena infrastruktur, akses penerbangan, pelaku usaha, dan aktivitas ekonomi semuanya ada di sini,” jelasnya.
Ridwan menekankan, konsep poros wisata tersebut bukan gagasan pribadi, melainkan bagian dari visi dan konsep besar Gubernur Sultra Andi Sumangerukka yang kemudian diturunkan dan dieksekusi oleh Dinas Pariwisata.
“Ini konsep Pak Gubernur yang kami jalankan. Saya hanya ‘menelurkan’ dan memastikan ekosistemnya terbentuk dengan baik,” katanya.
Ia juga menanggapi kritik terkait pembangunan pariwisata yang dinilai tidak berkelanjutan di sejumlah destinasi sebelumnya. Ridwan mencontohkan pengelolaan destinasi seperti Bokori, Batugong, dan Taipa yang menurutnya perlu dibenahi secara serius, terutama terkait kebersihan, manajemen sampah, dan dampak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Event besar dengan anggaran ratusan juta hingga miliaran tidak akan berdampak jika tidak berada dalam rumah besar ekosistem pariwisata. Kita ingin event itu efektif, berkelanjutan, dan menghasilkan,” tegasnya.
Dalam satu bulan terakhir, Dinas Pariwisata Sultra telah mencatat sedikitnya 26 program prioritas yang telah dan sedang berjalan. Program tersebut mencakup perbaikan pengelolaan destinasi, penguatan konsep pentahelix melalui kolaborasi dengan pelaku usaha, akademisi, komunitas kreatif, hingga penyusunan kalender event daerah.
Beberapa agenda strategis yang tengah dipersiapkan antara lain Harmoni Sultra yang dirangkai dengan Festival Bokori dan peringatan Hari Dirgantara, pengembangan Kendari Water Sport, kolaborasi dengan maskapai untuk fun trip penerbangan langsung Jakarta–Kendari, serta kerja sama internasional termasuk rencana rute Guangzhou–Kendari.
Selain itu, Ridwan juga menyebut dukungan terhadap pengembangan desa wisata, perbaikan armada speed boat milik Dinas Pariwisata sebagai potensi PAD, percepatan sertifikasi Pulau Bokori, hingga perbaikan akses jalan menuju destinasi wisata.
“Pariwisata tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Harus berbasis ekosistem dan kolaborasi. Kami terbuka untuk diskusi dan siap memaparkan apa saja yang sudah dan sedang kami bangun,” pungkasnya.
Laporan : Rul R.















































