Penulis : Muhamad Faza Almaliki, Maudhy Satyadharma
Kendari, 30 Agustus 2025
“Jurnal disampaikan untuk mengikuti Lomba Essay sebagai salah satu rangkaian kegiatan Event FORKESTRA 2025”
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Kemacetan di Kendari semakin hari semakin sulit dikendalikan. Jalan-jalan utama setiap pagi penuh dengan kendaraan pribadi yang sebagian besar ditumpangi pelajar. Ironisnya, kota ini sampai hari ini tidak memiliki sistem angkutan sekolah yang memadai. Pemerintah seakan menutup mata, padahal dampaknya jelas: biaya transportasi yang kian mencekik orang tua, emisi yang meningkat, dan ketidaknyamanan bagi pelajar.
Penelitian terbaru yang dilakukan selama Februari hingga April 2025 memberi gambaran gamblang. Dari 50 orang tua siswa SMP dan SMA di Kendari, sebanyak 74 persen mengaku anaknya berangkat sekolah dengan kendaraan pribadi, 24 persen menggunakan transportasi online, dan hanya 2 persen yang bertahan dengan angkutan umum. Fakta lain lebih menyedihkan: 70 persen orang tua menghabiskan hingga 75 persen dari biaya sekolah harian hanya untuk transportasi.
Ketidakadilan Akses Transportasi
Situasi ini mengungkap sebuah kenyataan pahit: akses transportasi publik yang adil masih jauh dari harapan. Ketiadaan angkutan sekolah mendorong orang tua untuk mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dipikul negara.
Sebagian orang tua memilih mengeluarkan biaya besar untuk transportasi online, sementara sebagian lainnya terpaksa membiarkan anak mereka mengendarai motor di bawah umur. Dua-duanya sama-sama berisiko baik dari sisi finansial maupun keselamatan.
Ironisnya, angkutan umum konvensional tidak lagi menjadi solusi. Trayek yang tidak sesuai, waktu yang tidak fleksibel, serta minimnya kenyamanan membuat masyarakat enggan menggunakannya. Moda yang semestinya mengurangi beban justru dianggap sebagai masalah tambahan. Inilah bentuk ketidakadilan layanan publik: ketika solusi tidak tersedia, beban dialihkan kepada keluarga.
IoT dan Analisa Spasial: Solusi yang Terabaikan
Padahal, teknologi telah memberi kita peluang untuk menjawab masalah ini. Analisa spasial memungkinkan pemerintah memetakan lokasi sekolah dan menyesuaikan trayek angkutan kota berdasarkan konsentrasi pelajar. Dengan pendekatan ini, rute yang selama ini timpang dapat dimodifikasi agar benar-benar menyentuh kebutuhan siswa di lapangan.
Lebih jauh, Internet of Things (IoT) menghadirkan peluang pengelolaan armada yang modern. Dengan sensor dan sistem pemantauan real-time, kendaraan bisa dipantau kondisinya, jadwal operasi bisa diatur, dan penggunaan bahan bakar bisa dioptimalkan. IoT juga memungkinkan sistem pembayaran nirsentuh yang lebih praktis, aman, dan transparan.
Bayangkan jika angkutan sekolah di Kendari dipantau secara digital, rutenya dirancang berbasis peta spasial, dan pembayarannya dilakukan secara cashless. Kota ini bukan hanya akan mengurai kemacetan, tetapi juga melangkah menuju konsep Smart Transportation dan transportasi berkelanjutan.
Kebijakan Publik yang Mendesak
Transportasi sekolah bukan sekadar soal teknis, melainkan hak dasar anak untuk mengakses pendidikan dengan aman dan terjangkau. Jika pemerintah terus abai, beban ini akan terus ditanggung keluarga, sementara dampak sosial dari ketidaksetaraan hingga meningkatnya polusi akan semakin parah.
Kendari butuh kebijakan berani: menghadirkan angkutan sekolah berbasis IoT dan analisa spasial sebagai wujud nyata komitmen pemerintah terhadap layanan publik. Kota ini punya peluang besar menjadi pionir transportasi cerdas di Sulawesi Tenggara, tetapi peluang itu akan hilang jika tidak ada keberanian untuk bertindak.
Urgensi Kebijakan yang Berani
Transportasi sekolah bukan sekadar urusan teknis mobilitas. Ia adalah hak dasar anak untuk bisa mengakses pendidikan dengan aman dan terjangkau. Kegagalan menyediakan layanan ini berarti membiarkan keluarga menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Kendari perlu kebijakan berani: menghadirkan angkutan sekolah berbasis IoT dan analisa spasial sebagai wujud nyata komitmen terhadap layanan publik. Tanpa langkah ini, kota akan terus menghadapi beban ganda: kemacetan yang semakin parah dan masyarakat yang makin terbebani secara ekonomi.
Lebih jauh lagi, kebijakan ini bukan hanya soal transportasi. Ia adalah strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang saling terkait. Mengurangi kendaraan pribadi berarti menekan polusi dan emisi. Memberdayakan angkutan umum berarti menjaga roda ekonomi para sopir dan operator lokal. Memberikan akses transportasi sekolah yang adil berarti memperkecil kesenjangan sosial antarwarga.
Penutup
Opini ini berangkat dari data lapangan. Data tidak pernah berbohong: kendaraan pribadi mendominasi, biaya transportasi melambung, angkutan umum ditinggalkan. Jika pemerintah Kota Kendari serius ingin mengurai kemacetan, menekan biaya pendidikan, dan membangun kota yang berkelanjutan, penyediaan angkutan sekolah bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
Karena pada akhirnya, keberanian mengambil keputusan hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi Kendari di masa depan.









































