Oleh:
Lembaga Masyarakat Adat Tolaki Sulawesi Tenggara (MAT–Sultra)
Konawe, 17 Februari 2026
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Salam sejahtera bagi kita semua.
Dengan penuh rasa hormat kepada para tetua adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta seluruh masyarakat Tolaki–Mekongga di Kabupaten Kolaka dan sekitarnya.
Kami menyampaikan seruan damai ini sebagai bentuk kepedulian terhadap dinamika kehidupan adat dan kebudayaan Mekongga, khususnya terkait polemik kepemimpinan adat yang saat ini memunculkan lebih dari satu klaim atas gelar Bokeo Mekongga.
Seruan ini bukan untuk memihak, bukan untuk menambah luka, dan bukan untuk memperbesar konflik. Seruan ini semata-mata mengajak semua pihak kembali kepada nilai-nilai luhur adat Mekongga: persatuan, kehormatan, dan kedamaian.
Nilai Luhur Adat Mekongga
Adat Mekongga merupakan warisan agung para leluhur yang tidak hanya memuat nilai sejarah, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur, antara lain:
- Persaudaraan dan persatuan (kekeluargaan).
- Kearifan dalam musyawarah.
- Kehormatan dalam tutur kata.
- Ketegasan dalam menjaga martabat.
- Kesakralan dalam adat dan ritual.
Oleh karena itu, gelar dan kepemimpinan adat—termasuk gelar Bokeo Mekongga—bukanlah sekadar simbol kehormatan, melainkan amanah yang berat dan suci.
Dampak Polemik Kepemimpinan Adat
Kami memahami bahwa dinamika sosial-kultural yang berkembang telah melahirkan lebih dari satu klaim kepemimpinan Bokeo Mekongga. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak serius, di antaranya:
- Perpecahan di tengah masyarakat Tolaki–Mekongga.
- Menurunnya wibawa lembaga adat di mata generasi muda.
- Timbulnya permusuhan antar keluarga dan antar kelompok pendukung.
- Munculnya narasi saling merendahkan dan saling menuduh.
- Terbukanya ruang bagi masuknya kepentingan luar (politik, ekonomi, dan konflik sosial).
Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena berpotensi menjadi luka sejarah yang diwariskan kepada generasi mendatang.
Dalam adat Mekongga, pemimpin adat sejati bukanlah yang paling kuat pendukungnya, paling keras suaranya, atau paling besar pengaruhnya, melainkan yang mampu menjaga persatuan, menahan diri, dan mengutamakan kehormatan adat.
Apabila gelar Bokeo digunakan untuk saling menjatuhkan, maka yang rusak bukan hanya nama seseorang, tetapi martabat adat itu sendiri.
Seruan Damai dan Ajakan Perenungan
Dengan kerendahan hati, kami menyerukan kepada seluruh pihak—khususnya para tokoh yang mengklaim atau diakui sebagai Bokeo Mekongga—untuk:
- Menahan diri dan menjaga tutur kata.
- Menghindari pernyataan dan sikap provokatif.
- Menghindari narasi yang mempermalukan pihak lain.
- Tidak saling menghina, baik di ruang publik maupun media sosial.
- Menghentikan pengerahan massa serta tidak menjadikan adat sebagai alat tekanan sosial.
- Tidak menjadikan masyarakat sebagai tameng konflik.
- Mengembalikan seluruh persoalan kepada mekanisme musyawarah adat.
Adat Mekongga dibangun di atas musyawarah, bukan permusuhan.
Sebelum mengambil langkah, hendaknya setiap pihak bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah langkah ini akan membuat leluhur bangga, atau justru menjadikan adat sebagai bahan pertikaian dan tertawaan?”
Usulan Solusi Damai
Musyawarah Adat Agung Mekongga
Kami mengusulkan agar segera dibentuk forum bersama bernama:
MUSYAWARAH ADAT AGUNG MEKONGGA
Dengan prinsip sebagai berikut:
- Diikuti oleh seluruh pihak yang berkepentingan.
- Dipimpin oleh tokoh adat sepuh yang netral dan berwibawa.
- Dihadiri tokoh agama sebagai penguat nilai moral.
- Dihadiri tokoh pemuda dan tokoh perempuan sebagai representasi generasi.
- Pemerintah hadir sebagai fasilitator dan saksi, bukan sebagai penentu.
Tujuan Musyawarah Adat Agung antara lain:
- Menyatukan kembali lembaga adat Mekongga.
- Memverifikasi sejarah dan silsilah secara beradab dan bermartabat.
- Menetapkan mekanisme legitimasi adat yang disepakati bersama.
- Mengakhiri konflik agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Piagam Damai Mekongga
Sebagai penguat komitmen, Musyawarah Adat Agung hendaknya menghasilkan dokumen tertulis yang disebut:
PIAGAM DAMAI MEKONGGA
Piagam ini setidaknya memuat:
- Komitmen persatuan dan penghentian konflik.
- Komitmen menerima dan menghormati hasil musyawarah adat.
- Komitmen menolak provokasi dan kepentingan luar.
- Komitmen menjaga martabat adat serta generasi penerus.
Pesan Perenungan bagi Para Pihak
Kepada para tokoh yang terlibat dalam polemik ini, kami sampaikan pesan perenungan:
- Gelar adalah kehormatan, tetapi persatuan adalah kemuliaan.
- Adat tidak hadir untuk membelah keluarga, melainkan untuk menyatukan.
- Kemenangan sejati bukan menundukkan orang lain, tetapi menundukkan ego.
- Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi saling merendahkan martabat tidak dapat dibenarkan.
- Mekongga tidak akan besar jika para pemimpinnya saling merendahkan.
Penutup
Seruan ini kami sampaikan sebagai panggilan nurani.
Kami percaya, masih ada jalan damai.
Kami percaya, masih ada kebesaran hati.
Kami percaya, musyawarah masih menjadi jalan utama.
Dan kami percaya, adat Mekongga adalah adat yang bermartabat, yang menjunjung persatuan, bukan permusuhan.
Semoga Allah SWT / Tuhan Yang Maha Esa memberikan petunjuk dan melembutkan hati kita semua.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Salam persatuan dan kehormatan adat Mekongga.















































