Penulis : Muhammad Farhan Hamid Syaifudin, Fadhliyah Malik
“Jurnal disampaikan untuk mengikuti Lomba Essay sebagai salah satu rangkaian kegiatan Event FORKESTRA 2025”
KENDARI, LINKSULTRA.COM – Sulawesi Tenggara tengah menghadapi tantangan serius dalam sektor kesehatan, khususnya di bidang kefarmasian. Rasio apoteker tercatat hanya sekitar 40,4 per 100.000 penduduk, jauh di bawah standar ideal nasional.
Data terbaru juga menunjukkan terdapat 383 apotek yang tersebar di seluruh provinsi, namun sebagian besar terkonsentrasi di wilayah perkotaan seperti Kendari.
Ketimpangan ini memunculkan beban kerja tinggi bagi tenaga farmasi, terutama di daerah yang minim SDM.
Di tengah situasi ini, digitalisasi layanan kesehatan hadir sebagai solusi nyata. Implementasi resep elektronik (e-prescribing) terbukti mampu memangkas waktu tunggu obat dari rata-rata 21,3 menit pada sistem manual menjadi hanya 13,9 menit.
Efisiensi sebesar 35% ini memungkinkan tenaga farmasi melayani lebih banyak pasien dalam waktu yang sama. Selain itu, aplikasi Mobile JKN juga mempercepat proses klaim BPJS, dari 15–20 menit menjadi hanya 5–7 menit.
Keuntungan digitalisasi tidak berhenti di situ. Sistem Rekam Medis Elektronik (RME) mampu menurunkan tingkat kesalahan input resep yang sering terjadi pada pencatatan manual. Hal ini bukan hanya meningkatkan akurasi, tetapi juga memperkuat keselamatan pasien. Bahkan, mutu layanan secara keseluruhan meningkat berkat akses data yang lebih cepat, keamanan informasi yang lebih baik, serta koordinasi antar-unit yang lebih efektif.
Meski demikian, tantangan besar masih dihadapi Sulawesi Tenggara, terutama soal kesiapan digital fasilitas kesehatan. Jika rumah sakit besar di kota sudah mulai beradaptasi dengan sistem digital, maka banyak puskesmas dan klinik di pedesaan masih mengandalkan cara manual. Disparitas ini berpotensi memperlebar kesenjangan layanan kesehatan antara perkotaan dan perdesaan.
Untuk itu, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan perlu mendorong percepatan digitalisasi dengan strategi konkret. Di antaranya:
Pelatihan SDM farmasi agar lebih siap mengoperasikan sistem digital.
Investasi infrastruktur jaringan internet hingga wilayah pelosok.
Integrasi aplikasi layanan kesehatan agar data pasien lebih terhubung lintas fasilitas.
Kebijakan insentif bagi fasilitas yang berhasil mengimplementasikan sistem digital secara optimal.
Dengan langkah-langkah ini, digitalisasi bukan hanya sebatas inovasi teknis, melainkan strategi penting untuk mengatasi keterbatasan tenaga farmasi, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat mutu layanan kesehatan di Sulawesi Tenggara.













































