KENDARI, LINKSULTRA.COM – Kinerja investasi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada awal tahun 2026 menunjukkan tren yang sangat positif. Sepanjang triwulan I (Januari–Maret), realisasi investasi berhasil mencapai Rp13,1 triliun, atau setara 36,18 persen dari total target investasi tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp36,22 triliun.
Capaian ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor, tetapi juga menjadi indikator kuat bahwa Sultra semakin kompetitif sebagai daerah tujuan investasi di Indonesia. Pertumbuhan investasi tercatat melonjak signifikan, baik secara tahunan (year on year/YoY) maupun kuartalan (quarter to quarter/QoQ), yang menandakan akselerasi ekonomi daerah terus bergerak ke arah yang lebih progresif.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra, La Ode Muhammad Nurjaya, mengungkapkan bahwa target investasi tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp13,28 triliun. Hal ini menjadi bukti optimisme pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis investasi.
Menurutnya, capaian signifikan ini didorong oleh peran sektor-sektor unggulan, khususnya industri logam dasar dan pertambangan yang masih menjadi tulang punggung investasi di Sultra. Selain itu, masuknya investasi pada sektor pendukung seperti kawasan industri, energi, serta perdagangan turut memperkuat struktur ekonomi dan menciptakan ekosistem investasi yang semakin solid.
“Tren positif ini menunjukkan bahwa Sultra semakin dilirik investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Kami terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif, transparan, dan kompetitif,” ujar Nurjaya.
Dari sisi kontribusi sektor, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya mendominasi dengan nilai mencapai Rp7,92 triliun. Disusul sektor pertambangan sebesar Rp2,72 triliun, perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp733 miliar, perdagangan dan reparasi Rp685 miliar, serta listrik, gas, dan air sebesar Rp614 miliar.

Sementara itu, sektor lainnya juga turut memberikan kontribusi, di antaranya industri mineral nonlogam sebesar Rp93,9 miliar, sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan Rp81,8 miliar, hotel dan restoran Rp51,4 miliar, serta industri makanan Rp50,5 miliar. Berbagai sektor strategis lainnya seperti industri mesin dan elektronik, kimia dan farmasi, hingga transportasi dan telekomunikasi juga menunjukkan aktivitas investasi yang terus bergerak.
Dari sisi wilayah, investasi masih terkonsentrasi di beberapa daerah strategis. Kabupaten Kolaka menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai Rp8,68 triliun, diikuti Konawe Utara Rp2,39 triliun, Konawe Rp1,22 triliun, serta Kota Kendari dan Konawe Selatan yang juga mencatat kontribusi signifikan.

Selain itu, sejumlah daerah lain seperti Buton, Bombana, Kolaka Utara, Wakatobi, hingga Baubau turut berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan investasi daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pemerataan investasi mulai terjadi, meskipun masih didominasi wilayah dengan basis industri kuat.
Dari sisi sumber investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 63,63 persen, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang 36,37 persen. Kondisi ini menunjukkan tingginya minat investor global terhadap potensi sumber daya dan peluang industri di Sulawesi Tenggara.
Tak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, realisasi investasi juga memberikan efek positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Sepanjang triwulan I 2026, tercatat 4.437 tenaga kerja berhasil terserap, yang terdiri dari tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja asing.
Nurjaya optimistis, tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Dengan berbagai proyek strategis yang tengah berjalan, termasuk pengembangan kawasan industri dan hilirisasi sumber daya alam, Sultra diyakini mampu mencapai bahkan melampaui target investasi tahun 2026.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara pun terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan perizinan, memperkuat regulasi yang ramah investasi, serta mendorong sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Dengan capaian yang impresif di awal tahun ini, Sulawesi Tenggara semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia. Investasi yang tumbuh pesat menjadi fondasi kuat menuju pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat yang lebih merata. (ADV/RR)
















































