KENDARI, LINKSUKTRA.COM– Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR), menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pembangunan infrastruktur strategis daerah.
Sejak dilantik, ia telah menetapkan empat program prioritas utama: pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan layanan kesehatan, serta penguatan ketahanan pangan berbasis agromaritim.
Salah satu langkah nyata dari komitmen tersebut kini terlihat dari upayanya mendorong pembukaan penerbangan internasional di Bandara Halu Oleo Kendari, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, membuka peluang ekonomi baru, serta meningkatkan daya saing Sultra di tingkat nasional dan internasional.
Gubernur ASR menilai, akses udara internasional akan menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain memudahkan mobilitas masyarakat dan wisatawan, penerbangan internasional di Bandara Halu Oleo juga membuka pintu ekspor bagi komoditas unggulan Sultra seperti hasil perikanan, produk pertanian, dan komoditas turunan industri nikel yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Pembukaan penerbangan internasional bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal memperluas peluang ekonomi masyarakat. Ini langkah besar agar Sultra semakin terhubung dengan dunia,” ujar Gubernur ASR dalam beberapa kesempatan.
Saat ini, Pemprov Sultra tengah mematangkan berbagai persyaratan teknis dan administratif untuk mempercepat realisasi program tersebut. Gubernur ASR bahkan disebut tengah bernegosiasi intensif dengan kementerian dan pihak terkait untuk melengkapi seluruh rekomendasi yang dibutuhkan.
Wakil Gubernur Sultra, Hugua, menambahkan bahwa pemerintah provinsi bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sultra dan pihak swasta, termasuk Cocos Travel, sedang menjajaki kerja sama dengan maskapai Southern China Airlines.
Rencananya, maskapai ini akan membuka jalur penerbangan langsung dari Guangzhou (Tiongkok) ke Kendari.

“Pak Gubernur sudah bertemu dengan pihak bandara, bea cukai, dan Pertamina. Semua standar sudah memenuhi syarat. Bandara siap, Pertamina siap, bea cukai juga sudah oke. Tinggal menunggu momentum,” ungkap Hugua di Kendari, belum lama ini.
Menurutnya, pemerintah menargetkan penerbangan internasional tersebut bisa mulai beroperasi pada Mei 2026. Jika terealisasi, diperkirakan sekitar 56 ribu wisatawan asal Tiongkok akan datang ke Sultra setiap bulan.
Arus wisatawan ini akan memberi efek domino bagi perekonomian, terutama di sektor pariwisata, transportasi, dan UMKM.
“Kalau ini jalan, wisatawan dari Tiongkok akan membanjiri Sultra. Kita punya banyak destinasi potensial seperti Wakatobi, Buton, Liangkabori di Muna, Rawa Aopa, Pulau Padamarang, Matarombeo, air panas Wawolesea, Teluk Kendari, hingga mangrove terbesar di Buton Utara,” jelas Hugua optimistis.
Pemerintah Provinsi Sultra juga menyiapkan delapan klaster kalender event yang akan ditetapkan tanggalnya dan dipromosikan secara internasional. Agenda tersebut diharapkan menjadi magnet wisata baru sekaligus memperkuat citra pariwisata Sultra di pasar global.
Selain itu, Kadin Sultra kini tengah mendorong tumbuhnya UMKM baru dari kalangan mahasiswa dan generasi muda agar dapat menangkap peluang ekonomi dari gelombang wisatawan internasional nanti.
Dengan kolaborasi kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Sultra diyakini akan segera bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Laporan: Rul R














































